Tampilkan postingan dengan label Dan Brown. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dan Brown. Tampilkan semua postingan
Digital Fortress (Benteng Digital)
Udah lama sebenernya pengen baca novel karya Dan Brown yang satu ini. Tapi nggak tahu kenapa kok selalu cuma aku angkat dari rak di toko, aku bolak-balik, lantas dikembalikan lagi ke rak. Padahal harga paperback yang versi Inggris ini tidak terlalu mahal. Dalam hati ada yang bisikin, jangan-jangan nggak sehebat DVC atau A&D, buktinya nggak meledak. Apalagi kan ini karya2 awalnya Dan Brown sebelum DVC dan A&D, mungkin dia belum cukup piawai saat itu.
Dan akhirnya malah kedahuluan dengan keluarnya versi terjemahan dari "Digital Fortress" ini. Penerbitnya masih tetap Serambi, yang juga penerbit terjemahan karya Dan Brown sebelumnya. Tampaknya Serambi mencoba mengambil peluang dengan menerbitkan novel ini bersamaan dengan dirilisnya film "Da Vinci Code" yang juga berasal dari karya Dan Brown itu.
Ah, Serambi... buku terbitannya sebenernya lumayan bagus-bagus, terjemahannya juga baik, tapi kok nggak didukung secara lengkap sih ya. Seperti Negara Kelima, novel hebat yang sayangnya dibiarkan berkeliaran sendiri tanpa promosi...
Sepotong Cerita
Berbeda dengan DVC dan A&D yang berlatarbelakang agama dan banyak bersetting di gereja, Digital Fortress sama sekali tidak bersangkut paut dengan hal itu. Novel ini berkisah tentang "Benteng Digital", sebuah algoritma penyandian canggih yang diterapkan pada email agar tidak bisa disadap oleh orang lain.
Adalah Susan Fletcher seorang wanita muda yang sangat ahli dalam hal persandian, tiba-tiba dipanggil oleh atasannya Trevor J. Strathmore untuk bekerja di hari Sabtu. Mereka berdua adalah ujung tombak dari NSA, National Security Agency, sebuah lembaga pemerintah US yang bertugas memecahkan kode sandi dari berbagai informasi yang diperoleh oleh pemerintah.
Strathmore sedang berkutat dengan sebuah kode baru yang dinamakan "Benteng Digital" yang dipublikasikan oleh Ensei Tankado, seorang ahli kriptologi juga yang mantan pegawai NSA. Algoritma kode tersebut sedemikian rumitnya, sehingga mesin pemecah kode TRANSLTR milik NSA, yang supercanggih dan berukuran delapan lantai, harus bekerja belasan jam untuk memecahkannya dan belum juga berhasil.
"Benteng Digital" adalah calon musuh besar bagi NSA, karena NSA belum sanggup memecahkannya. Sementara Ensei Tankado telah menawarkan ke seluruh dunia bagi penawar tertinggi. Jika "Benteng Digital" mendunia dan menjadi standar untuk penyandian email secara internasional, NSA akan mati kutu. Mereka tidak akan bisa lagi menyadap email dari para teroris, pedagang narkotika, penyelundup dan para penjahat lain.
Sementara itu David Becker, seorang profesor bahasa asing yang juga tunangan Susan Fletcher, tidak bisa menolak ketika diminta Strathmore sedikit bantuan. David diminta pergi ke Spanyol untuk mengambil beberapa benda penting. Benda penting milik Ensei Tankado yang mungkin menjadi kunci pemecah dari sandi "Benteng Digital". Ensei Tankado sendiri ditemukan tewas terbunuh di sebuah taman di Spanyol beberapa saat sebelumnya, sebelum sempat menjual atau mempublikasikan kode pemecah sandi "Benteng Digital".
Sangat Khas Dan Brown
Dan Brown rupanya sejak awal sudah memiliki ciri khasnya sendiri. Cara berceritanya di 3 novel yang sudah aku baca bisa dibilang mirip satu sama lain. Ketiganya dibuka dengan adegan kematian seorang tokoh yang berperan penting dalam cerita. Kemudian berlanjut dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi beruntun dalam satu rentang waktu yang pendek. Kejar-kejaran ditambah dengan usaha memecahkan sandi. Dengan plot cerita yang dipelintir-pelintir tak terduga.
Semuanya dikisahkan dalam bab-bab pendek yang berganti-ganti fokus dari satu tokoh di satu tempat ke tokoh lain di tempat lain pula. Dan setiap bab hampir selalu diakhiri dengan kejutan yang membuat pembaca semakin penasaran. Cara bercerita yang menarik yang mampu mempermainkan emosi pembaca hingga tak mau berhenti sebelum selesai.
Begitu juga dengan novel "Digital Fortress" ini. Meskipun sudah mengenal gaya bercerita Dan Brown, tapi tetap saja terbawa dalam alur ceritanya yang naik turun tiba-tiba. Ketika suatu masalah kelihatannya sudah menemukan titik terang, mendadak terjadi suatu hal yang mementahkan semuanya. Dan itu hampir selalu terjadi. Jadinya udah bisa nebak juga bahwa menjelang akhir bab akan ada kejutan yang memutarbalikkan semuanya.
Belum Sehebat DVC dan A&D
Kekhawatiranku ternyata ada benarnya. Novel ini tidak se"wah" DVC atau A&D, meskipun tetap enak diikuti khas cara bercerita Dan Brown. Tidak ada rahasia besar yang kontroversial yang diungkap disini. Tentang bahwa ada badan pemerintah AS yang ternyata menyadap setiap email yang keluar-masuk dunia maya, tidak lah terlalu mengherankan.
Permainan sandinya juga tidak sehebat DVC dengan anagramnya, apalagi dibanding A&D dengan ambigramnya yang menakjubkan itu. Hanya beberapa permainan kode sederhana. Bahkan pemecahan sandi terakhir yang seharusnya menjadi puncak dan klimaks kisah ini, ternyata begitu saja. Apalagi adegan pada ending ini menurutku rada keteteran. Kode yang sebenarnya sederhana tampak dirumit-rumitkan oleh Dan Brown. Pada kondisi yang sangat kritis, tokoh2nya malah membahas berpanjang-panjang hal yang tidak penting.
Yang cukup rumit adalah twist dari tokoh2nya. Pada satu titik pembaca akan dibingungkan harus berpihak pada siapa. Siapa antagonis dan siapa protagonis. Mana yang berniat menolong dan mana yang sebenarnya ingin mencelakakan.
Film dan Bonus
Memang cukup terasa bahwa disini Dan Brown belum sematang saat mengerjakan DVC dan A&D. Tapi Dan Brown sudah menemukan ciri dan bentuknya disini. Sebuah cara bercerita yang mampu membawa pembacanya hanyut dalam arus yang deras dan bergelombang naik dan turun tak terduga.
Dengan gaya bercerita seperti itu, novel2 Dan Brown sudah terasa filmis. Di setiap akhir bab selalu terbayang bahwa setelah kejutan dramatis di akhir bab itu layar akan meredup dan kemudian berpindah ke adegan tokoh lain yang juga sedang dicekam ketegangan. Dan ketika novel tersebut difilmkan dan harus dipadatkan demi durasi, maka suasana dramatis di setiap akhir bab itupun hilang. Berganti dengan rentetan peristiwa berurutan saja. Mungkin itulah yang membuat film DVC tidak sehebat novelnya...
Selain bonus berupa stiker bergambar sampul buku "Da Vinci Code" (kenapa bukan pembatas buku aja sih?), di bagian akhir buku ini ada sebuah kejutan tambahan. Ada 21 halaman ekstra yang berisi terjemahan 4 bab awal dari "Deception Point", novel kedua dari Dan Brown. Membaca teaser ini, ternyata memang Dan Brown sangat teguh dengan ciri khasnya, hingga pembaca sedikit banyak akan merasa deja vu.
Lebih nungguin novel Dan Brown yang sekarang lagi digarap sih, yang katanya bakal berjudul "The Solomon Key"... (sumber: qyu)
Judul: Digital Fortress (Benteng Digital)
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Penerbit Serambi
ISBN: 9791600910, 9789791600910
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook
Malaikat dan Iblis - Edisi Khusus Bergambar
Novel itu memang baru, tapi tidak baru. Bingung kan?. Novel ini diterbitkan Februari 2005, fresh from the oven. Tapi versi aslinya sudah diterbitkan pada tahun 2000. Yup, novel baru itu adalah versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Sepertinya penerbit Serambi tidak mau kehilangan momentum. Setelah terjemahan Da Vinci Code yang kontroversial itu terbukti mampu menyita perhatian pecinta buku, dalam waktu tidak terlalu lama novel dari pengarang yang sama dengan tema yang agak2 serupa mereka terjemahkan dan terbitkan. Angels & Demons, Malaikat & Iblis.
Dan wiken kali ini, sebagaimana wiken minggu kemaren, kembali dikuasai oleh sebuah buku baru.
Hey Q! get a life!!.... :p
Deja Vu
Dari melihat covernya (yang edisi terjemahan ini ya) aku udah merasa deja vu. Kok mirip banget sih? sengaja pengen ndompleng ya? Padahal sebenernya ini kan prequel dari DVC, terjadi sebelum kisah yang dipaparkan di DVC. Meski nggak ada keterkaitan cerita satu sama lain, tapi tokoh utamanya tetap Robert Langdon dengan latar belakang yang tidak jauh berbeda.
Menelusuri bab-bab awal, kembali terasa deja vu. Diawali dengan seseorang yang tidak mau dipaksa untuk mengatakan suatu rahasia hingga berujung pada pembunuhan sadis. Kemudian Robert Langdon ditelepon malam2 oleh orang asing diminta untuk melihat mayat dan simbol2 yang ada. Di tempat kejadian Robert terkejut2 melihat mayat telanjang yang dibunuh dengan sadis. Dan dilanjutkan pertemuan Robert dengan seorang wanita yang kemudian akan menjadi partner yang mendampinginya hingga akhir cerita. Plot yang sangat mirip dengan bab2 awal dari Da Vinci Code. Apa Dan Brown nggak punya cara lain untuk membuka cerita dan memperkenalkan tokoh2nya?
Robert Langdon tetap dipakai keahliannya sebagai pakar simbologi keagamaan dalam mengungkap semua misteri di dalam novel ini. Jadi jangan mengeluh kalo merasa ada data dan fakta yang dikemukakan di novel ini sudah pernah dibicarakan di DVC.
Tapi jangan khawatir. Itu semua hanya akan terasakan di awal2 cerita. Setelah semuanya mengalir dengan lancar, suatu cerita baru yang penuh dengan ketegangan akan meliputi pembacanya. Kita akan disiksa oleh novel ini, karena serasa tidak mampu melepaskannya....
Agama dan Sains
Jika di DVC ada suatu kelompok rahasia yang berusaha diungkap keberadaan dan aktifitasnya, Priory of Sion, maka disini juga ada suatu kelompok rahasia yang memainkan cerita utama, Illuminati. Sama2 merupakan suatu kelompok yang telah terbentuk ratusan tahun yang lalu, dengan beberapa anggotanya adalah tokoh2 terkenal dunia. Keduanya juga sama2 mempunyai pandangan yang melawan kebijakan gereja. Bedanya, tidak seperti PS yang terus berusaha bersembunyi, Illuminati malah muncul dan menyebar teror ke gereja Vatikan.
Pihak gereja bukan hanya cemas dengan teori2 baru dari para ilmuwan yang bertentangan dengan dalil2 di kitab suci, tapi mereka juga cemas akan ditinggalkannya nilai2 moral dan etika jika manusia sudah terlalu memuja ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara memang tidak bisa dipungkiri sebagian dari para ilmuwan begitu bangganya dengan sumbangannya terhadap kemajuan dan modernisasi kehidupan manusia, tapi mereka mengabaikan akan efek2 buruk yang ternyata bisa merusak kehidupan manusia.
Petualangan 24 Jam
Satu lagi deja vu dalam novel ini adalah seluruh petualangan berlangsung hanya dalam 24 jam, sama seperti DVC. Kejadian demi kejadian dirangkai tanpa jeda. Dari satu kejutan ke kejutan berikutnya. Pembaca dibuat terpaku tak mau pergi karena penasaran dengan bagaimana kelanjutannya, apa kejutan berikutnya.
Petualangan intelektual pembaca diawali dengan pameran kedigdayaan ilmu pengetahuan. Pesawat terbang berkecepatan 15 mach (whatever it is.. :P), kompleks laboratorium raksasa di Jenewa dengan mesin akselerator partikel terbesar di dunia. Dilengkapi dengan teori2 tentang partikel hingga bagaimana bisa tercipta partikel antimateri yang menjadi sumber malapetaka dalam petualangan ini.
Klimaks dari novel ini cukup fantastis, dengan banyak kejutan tak terduga. Puas rasanya semua ketegangan dari awal yang terus berdetak tanpa henti akhirnya ditutup dengan ending yang WOW!. Seharusnya novel ini lebih layak menjadi film Hollywood daripada DVC yang berakhir menggantung tanpa penjelasan pasti. Tapi sepertinya susah untuk bisa membuat film yang otentik berdasarkan novel ini, terutama karena lokasi utamanya yang sangat restricted. Istana Vatikan dan seluruh ruang rahasianya.
Ambigram
Teka-teki dalam DVC terbungkus dalam kode2 sandi Anagram, kalimat yang posisi huruf2nya telah dipertukarkan sehingga membentuk kalimat baru. Sedangkan disini, yang bermain sebagai permainan yang menyenangkan dan mencengangkan pembaca adalah ambigram. Kata2 yang ditulis sedemikian rupa sehingga jika diputar 180 derajat akan terlihat sebagai tulisan yang sama persis. Simetri putar kalo dalam istilah matematika di SD.
Mencengangkan, karena membutuhkan kreativitas dan ketelitian tingkat tinggi agar bisa membuat tulisan semacam itu. Enam ambigram yang dilukiskan dalam kisah ini pastilah menimbulkan kekaguman. Dan ambigram terakhir adalah yang paling brilian.
Penggunaan huruf gothik yang penuh dekorasi mungkin memang salah satu cara tepat untuk membentuk ambigram. Dari sudut pertama, satu garis adalah komponen dari salah satu huruf, tapi dari sudut kedua, garis tersebut hanyalah sebagai dekorasi tanpa mengganggu huruf utama. Walaupun kadang bentuk huruf yang ada menjadi tidak sempurna, tapi karena kemampuan manusia yang sangat hebat dalam pengenalan pola dan kecenderungan untuk mempersepsikan sesuatu sesuai dengan keinginan, maka ambigram itu akan tetap bisa dibaca dengan baik.
Dan ketika aku selesai membaca novel ini, menutupnya, dan menghela nafas panjang, halaman yang bertuliskan judul asli novel ini tersibak sekilas. Angels & Demons, ditulis secara dekoratif. HAH! dekoratif katamu? aku buka lagi halaman itu, aku putar 180 derajat. Ambigram ke tujuh. (sumber: qyu)
Judul: Malaikat dan Iblis - Edisi Khusus Bergambar
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Penerbit Serambi
ISBN: 9791112355, 9789791112352
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook