Tampilkan postingan dengan label Daniel Keyes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daniel Keyes. Tampilkan semua postingan
Pertarungan Jiwa Billy
Yang sudah baca "24 Wajah Billy" mestinya masih penasaran tentang bagaimana kelanjutan nasib Billy Milligan, penderita MPD (Multiple Personality Disorder) dengan 24 kepribadian. Tahu kan, ending dari kisah itu berakhir dengan keputusan hakim untuk mengirim Billy ke Lima State Hospital for Criminally Insane, sebuah rumah sakit khusus untuk tahanan berkelainan jiwa dengan penjagaan maksimum yang terkenal sebagai "rumah sakit neraka". Di saat2 Billy sudah mampu membentuk kepribadian yang terfusi utuh, kondisi eksternal malah tidak menguntungkan bagi kestabilan jiwanya.
Penerbit Qanita rupanya tidak ingin melepaskan kesempatan itu. Kelanjutan kisah nyata ini yang juga ditulis oleh Daniel Keyes sudah diterbitkan dengan judul "Pertarungan Jiwa Billy" (judul aslinya " The Milligan Wars"). Buku ini malah belum diterbitkan di US, karena keberatan dari berbagai pihak yang merasa dipojokkan dan dipertontonkan 'borok'nya... hmmm.. negara yang katanya menjunjung tinggi kebebasan pun ternyata tetap otoriter jika itu menyangkut kepentingannya sendiri...
Kelanjutan Ceritanya
Agak repot untuk membuat ringkasan dari buku ini, karena begitu banyak kejadian yang diceritakan. Ringkasan yang memuat semua kejadian itu akan jadi cukup panjang, tapi jika ada bagian yang tidak dimasukkan akan menjadi tidak lengkap.
Kisah dalam buku ini berada dalam rentang waktu antara Oktober 1979 hingga Agustus 1991. Dalam masa itu Billy harus mengalami dilempar-lempar dari bangsal ke bangsal, dari rumah sakit ke rumah sakit.
Bab-bab awal sudah dibuka dengan beberapa adegan yang memualkan. Kekejaman para petugas di Lima State Hospital memang tidak manusiawi lagi, ditambah lagi mereka masih mencoba memeras pasien meminta uang jaminan keamanan. Sementara dokter dan petugas klinis tidak mempercayai diagnosis MPD yang diidap Billy, dan mengacuhkan rekomendasi Dr. Caul tentang prosedur perawatan bagi Billy.
Setelah beberapa waktu menjadi bulan-bulanan petugas, Billy dengan kecerdikan karakter2 yang dimilikinya akhirnya bisa memanipulasi petugas dan ditempatkan di bangsal semi terbuka. Di bangsal ini Billy bisa melakukan banyak kegiatan, dari melukis Mural di dinding rumah sakit, menulis, serta bekerja di Terapi Pekerjaan. Dan di belakang itu semua, Billy berhasil mengkonsolidasi pasien untuk merencanakan perang terhadap rumah sakit.
Ketika Lima State Hospital ditutup, Billy dipindahkan ke Dayton Forensics, dirawat oleh dokter yang memahami MPD. Kondisi kejiwaan Billy pun mengalami kemajuan pesat, akhirnya hakim memutuskan memindahkan Billy kembali ke rumah sakit terbuka di Athens untuk dirawat Dr. Caul. Tapi sayang, beberapa pihak di kota itu tidak menerima kedatangan Billy, dan membuat jebakan sehingga Billy dituduh melakukan perbuatan kriminal.
Billy kembali diamankan di Dayton, di bawah pengawasan Dr. Lindner yang pernah menangani Billy di Lima. Dr. Lindner tidak pernah mempercayai diagnosa MPD. Dengan cerdik Billy memutuskan lari dari rumah sakit menggunakan identitas baru sebagai Christopher Eugene Carr dan terbang ke Miami. 5 bulan kemudian ia dapat ditangkap saat menemui pengacaranya. Penangkapan ini diperberat dengan sebuah tuduhan baru, pembunuhan seorang mahasiswa yang sempat berteman dengannya selama masa pelarian.
Kembali ke rumah sakit jiwa di Ohio, Billy putus asa. Tidak ada lagi keinginan untuk melanjutkan hidup. Ia memutuskan untuk mati pelan-pelan dengan berpuasa. Berbagai bujukan tidak mampu membuatnya mau makan hingga lebih dari satu bulan. Dan di satu malam, semangatnya untuk hidup muncul kembali. Dia mau makan, asalkan rumah sakit mengijinkannya memiliki komputer. Tuntutannya dikabulkan.
Dan apa yang terjadi? Billy adalah seorang pembelajar yang hebat. Dalam waktu yang tidak lama, dia berhasil mengakses data dari Department of Mental Health. Ia mendownload sejumlah data kontroversial, yang antara lain menunjukkan bahwa pasien rumah sakit telah diperas habis2an dengan biaya yang tidak masuk akal. Dengan bekal data itu, Billy berhasil lagi menggertak pihak rumah sakit. Ia pun mendapatkan perlakuan yang lebih baik dan menyongsong kebebasan.
Tapi tidak semudah itu, karena tuduhan pembunuhan di Miami masih menghantuinya, dan seorang petugas dari Adult Parole Authority menyakini bahwa setelah bebas dari rumah sakit Billy harus ditahan di penjara untuk meneruskan hukuman atas tindak perkosaan terhadap 3 orang wanita di Ohio 14 tahun sebelumnya.
Kisah ini ditutup dengan epilog saat Billy bersama penulis pergi ke perkebunan tempat Billy kecil pernah selama bertahun-tahun menjadi obyek penyiksaan dan pelecehan oleh Chalmer, ayah tirinya.
***
Fiuuh, panjang kan ceritanya... Padahal itupun banyak hal yang aku lewatkan. Masih ada kisah tentang Mary, sesama pasien saat di Athens yang mencintai Billy dan rajin mengunjunginya di Lima Hospital. Ada pula kisah pernikahannya dengan Tanya Bradley (kisah pernikahan ini sayangnya telah di-'spoiled' habis oleh judul babnya, bahkan sebelum pembaca tahu akan ada pernikahan.... )
Mengikuti cerita ini kita akan dibawa naik turun mengikuti emosi Billy. Ikut menukik terbawa dalam penderitaannya, ikut melambung ketika ia mengalami kemajuan yang menggembirakan, ikut kesal dengan orang2 yang ingin mencelakakannya, dan pada akhirnya ikut bersimpati terhadap orang2 yang tidak beruntung yang mengalami kelainan jiwa.
Billy yang Terpojok
Buku ini tidak lagi memfokus pada masalah kepribadian majemuk yang dimiliki Billy. Hal itu sudah dikuak secara lengkap di buku pertama. Disini lebih menyoroti situasi2 eksternal yang menyulitkan kehidupan Billy, sehingga menghambat proses penyembuhan kejiwaannya.
Kondisi eksternal antara lain seperti masyarakat umum yang telah memberi cap bahwa Billy adalah seorang pemerkosa dan kriminal yang harus tetap dikurung selamanya karena berbahaya bagi keamanan hidup mereka. Sebagian media yang mendukung pendapat masyarakat terus-menerus menyuguhkan artikel yang memojokkan Billy. Belum lagi sejumlah anggota legislatif ikut mengeluarkan pernyataan di media, memanfaatkan kesempatan untuk meraup simpati para calon pemilihnya. Bahkan sebuah amandemen Undang-undang baru secara khusus dikeluarkan oleh anggota legislatif untuk mencegah dibebaskannya Billy tanpa ijin mereka.
Sementara kondisi di dalam rumah sakit juga sering kali tidak mendukung bagi kestabilan jiwa Billy, dokter yang tidak percaya bahwa Billy mengidap MPD, petugas yang memperlakukan pasien seperti binatang, serta segala peraturan yang membatasi aktivitas.
Borok Institusi2 di US
Dalam buku ini Billy Milligan tampaknya ingin agar semua orang tahu betapa buruk perlakuan di semua rumah sakit tahanan yang sempat ia huni, kecuali Athens Mental Health Centers tentunya. Ia beberkan semua borok dari institusi2 tersebut. Sama sekali tidak ada semangat menyehatkan pasien. Bukan hanya tidak diperlakukan secara manusiawi, tapi juga masih diperas oleh petugas dan dicekik dengan biaya yang tinggi.
Untuk menghadapi itu semua Billy mengambil segala cara untuk bisa bertahan. Dengan memanfaatkan kemampuan 24 spesialis yang menghuni kepalanya, ia memanipulasi orang, menggunakan kekerasan, mencuri milik orang lain, melarikan diri, mogok makan, hingga meng-hack sistem komputer. Memang bukan cara yang bisa dibilang etis, tapi itulah celah dan kesempatan yang ditemukan Billy untuk bisa bertahan, untuk memperjuangkan haknya atas perlakuan yang lebih baik, dan lebih jauh lagi, haknya atas kebebasan.
Dan ketika semua borok itu diungkap dalam buku ini, tidak heran jika banyak pihak yang keberatan atas terbitnya buku ini di negara asalnya.
Beberapa Komentar
"The Milligan Wars", judul yang sangat tepat untuk buku ini. Tapi entah kenapa kok dipilih untuk diterjemahkan sebagai "Pertarungan Jiwa Billy". Buku ini lebih mengisahkan pertarungan Billy melawan sistem yang telah memenjarakan dan memperlakukan dirinya secara sewenang-wenang, bukan lagi mengenai pertarungan di dalam jiwa Billy.
Nyaris tidak ada lagi pertentangan antara ke-24 kepribadian yang ada. Masing-masing tampaknya telah tahu peran dan bagiannya, serta bisa bekerja sama satu sama lain. Dan pada saat yang tepat mereka akan bersatu memfusi menjadi Sang Guru. Dan memang di buku ini tidak terlalu banyak diungkap tentang perkembangan masing-masing kepribadian. Disini lebih banyak menceritakan Billy sebagai Billy melawan sistem.
Pada beberapa bagian penulis bercerita cepat secara kronologis dengan menyertakan kutipan-kutipan dokumen dari media, surat, dan jurnal. Tidak melalui adegan-adegan yang dimainkan tokoh2 yang ada. Terus terang, pada bagian itu aku merasa lelah untuk mengikutinya. Masalahnya, aku terlanjur men-set pikiranku untuk membaca sebuah novel, bukan surat kabar.
Mungkin penulis memilih cara bercerita seperti itu karena dia tidak memiliki cukup akses kepada Billy untuk mengorek banyak cerita. Penulis berkali-kali dihalangi oleh berbagai pihak untuk mengunjungi Billy. Berbeda dengan saat menulis buku pertama, dimana penulis bebas mengunjungi Billy di Athens. Dan penulis tidak berkeinginan mereka-reka sendiri kejadian2 yang dialami Billy, karena buku ini adalah sebuah kisah nyata. Maka dari itulah, penulis membiarkan catatan dan dokumen yang bercerita, yang tentu saja akan berkesan kaku.
Penterjemahannya cukup baik, meskipun beberapa kali aku merasakan ada kalimat yang membingungkan karena ada kata2 yang hilang. Yang agak disayangkan adanya kekurang-cermatan pengaturan format. Pada buku ini kutipan dari dokumen2 selalu ditampilkan dengan format yang berbeda dari narasi cerita. Namun pada beberapa bagian, ada paragraf2 yang seharusnya bukan lagi merupakan kutipan dokumen tapi tetap menggunakan format kutipan (hal 446-449, 505-510). Pembaca pasti akan bingung mengikutinya. Saat aku konfirmasi ke jeng Antie, sang editor, dia minta maaf atas human error tersebut. Dan dia bilang, "Yang kayak gitu tanda-tanda bakal dicetak ulang".... hehehehe.. amin... (sumber: qyu)
Judul: Pertarungan Jiwa Billy
Pengarang: Daniel Keyes
Penerbit: Qanita
ISBN: 9793269480, 9789793269481
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook
24 Wajah Billy
Kepribadian Majemuk atau bahasa kerennya MPD/DID (Multiple Personality Disorder / Dissociative Identity Disorder), mestinya pernah denger kan istilah itu? Tentang orang yang kadang berubah-ubah kepribadiannya. Sesaat baik tapi disaat lain berubah jadi jahat. Fenomena ini kayaknya sering diangkat jadi tema di film ato cerita fiksi. Yang paling terkenal mungkin ya cerita "Dr. Jekyll and Mr. Hyde". Terus ada juga film "Nutty Professor" yang ceritanya mirip2. Tapi di cerita2 ini, orang2 itu bisa berubah kepribadian karena pengaruh meminum campuran bahan kimia tertentu, ato karena pake topeng ajaib seperti "The Mask". Bukan karena adanya gangguan mental.
Nha yang lagi mau aku bahas disini adalah kepribadian majemuk karena gangguan mental. Kebetulan baru baca buku yang menceritakan kisah nyata seseorang yang memiliki kepribadian majemuk. Bukunya berjudul "24 Wajah Billy". Sebelumnya buku ini muncul, sudah pernah ada buku serupa tentang kisah nyata dari "Sybill" yang berkepribadian 16. Mungkin banyak yang udah baca "Sybill, tapi aku belum. Jadi nggak bisa mbandingin.
Kisah Billy Milligan
Buku ini bercerita tentang Billy Milligan yang ditangkap polisi di Ohio karena dituduh melakukan penodongan dan pemerkosaan terhadap tiga orang wanita. Dalam pemeriksaan ditemukan ternyata si Billy ini memiliki kepribadian majemuk. Atas rekomendasi beberapa psikiater termasuk psikiater yang pernah menangani Sybill, Billy dinyatakan memerlukan perawatan untuk menstabilkan pribadinya. Hakim pun memutuskan Billy tidak cukup waras untuk disidang dan mengirimnya ke rumah sakit mental dengan pengawasan.
Atas ketelatenan Dr. Caul, Billy pelan2 mulai bisa memahami dirinya dan setiap karakternya mau bekerja sama dengan Dr. Caul dalam terapi2 yang diberikan. Dan dalam satu kondisi yang mendukung Billy akhirnya mampu membuat satu karakter baru yang merupakan penyatuan seluruh karakter yang ada di dirinya. Tapi karakter penyatuan ini masih timbul tenggelam, tidak bisa seterusnya menguasai diri Billy.
Sayangnya, sebagian masyarakat masih menganggap Billy sebagai penjahat kambuhan yang berbahaya. Menurut mereka penjahat seperti Billy tidak seharusnya mendapat fasiltas dan kebebasan seperti yang diberikan rumah sakit tempat Billy dirawat. Media massa lokal dengan gencar memberitakan ketidakadilan dan ketakutan yang dihadapi masyarakat. Bahkan seorang senator juga memanfaatkan isu Billy untuk meraih simpati masyarakat.
Tudingan dan hujatan itu pun sampai ke telinga Billy dan membuatnya depresi. Dalam keadaan depresi, Billy tidak mampu lagi memunculkan "Sang Guru" karakter utuhnya untuk mengendalikan pikiran dan tubuhnya. Apalagi saat disidang kembali Hakim memutuskan Billy harus dikirim ke rumah sakit mental yang pengawasannya seketat penjara. Dan kenyataannya rumah sakit itu lebih mirip kamp konsentrasi. Billy pun kembali hancur kepribadiannya.
Memang kisah Billy tidak happy ending seperti Sybill, katanya yang sudah baca akhirnya mampu menyatu kembali dengan sukses setelah melalui proses selama sepuluhan tahun. Yang membedakan Billy dari Sybill, dan yang kemudian menjadikan Billy tidak bisa mencapai penyatuan secara utuh seperti Sybill, adalah Billy telah melakukan perbuatan kriminal yang membuat masyarakat membencinya. Dan kemudian masyarakat membuat keputusan Billy tidak layak untuk hidup normal.
Ajaibnya Kepribadian Majemuk
Sebenarnya jarang banget ditemuin kasus kepribadian majemuk ini. Tapi karena kasus ini menciptakan suatu kisah yang kompleks dan dramatis, jadinya banyak orang terinspirasi untuk mengangkat kasus ini sebagai sebuah cerita.
Sulit mbayangin, bagaimana di satu tubuh bisa terpecah-pecah menjadi banyak karakter. Masing-masing karakter itu punya sifat-sifat unik yang berbeda-beda. Masing2 juga bisa punya keahlian dan ketrampilan sendiri yang tidak dimiliki karakter yang lain. Di dalam tubuh Billy, ada Arthur yang cerdas dan analitis, ada Ragen yang temperamental dan kuat fisiknya, ada Allen yang pandai berbicara, ada Tommy yang trampil dalam banyak keahlian. Masing-masing kemampuan itu hanya dimiliki oleh karakter yang bersangkutan. Ketika Tommy berada di "ruang utama" jangan suruh dia berbicara banyak seperti Allen, karena Tommy cenderung antisosial.
Dalam tubuh Billy juga ada karakter anak-anak, Danny, David, dan Christene. Mereka muncul jika Billy merasa tak berdaya. Dan yang mengejutkan lagi, ada karakter wanita dalam tubuh Billy. April dan Adalana. Bahkan Adalana adalah karakter yang bertanggung jawab atas pemerkosaan yang dilakukan Billy. Karena Adalana adalah seorang lesbian yang haus cinta.... Rumit banget dah..
Masing-masing karakter ini memiliki memori mereka sendiri2. Pada awalnya masing2 tidak pernah tahu apa yang terjadi ketika Billy dikuasai oleh karakter yang lain. Sehingga masing2 karakter itu sering merasa kehilangan waktu, karena si karakter baru sadar kembali ketika dia punya kesempatan untuk memasuki "ruang utama" lagi.
Arthur pernah memutuskan untuk pergi ke kampung halamannya di Inggris selama beberapa hari. Apa daya ketika sudah di Inggris, Arthur kehilangan tempat utama. Saat karakter lain mengambil posisi, diapun bingung kenapa bisa berada di Inggris. Dengan segera memutuskan untuk kembali ke US. Arthur baru kembali menguasai "ruang utama" saat sudah berada di apartemennya, dan ketika tahu ternyata dia tidak di Inggris lagi Arthurpun marah besar... Semacam itulah kerumitannya...
Yang agak aneh, masing2 karakter ini seolah mempunyai kehidupan masa lalu nya sendiri2. Arthur mengatakan kalo dia orang Inggris, dan cara berbicaranya pun sangat kental dengan logat Inggris. Padahal Billy belum pernah sama sekali ke Inggris. Bahkan Ragen, mengaku kalo dia adalah orang Serbo-Kroasia dan bisa dengan lancar berbahasa Serbo-Kroasia... dari mana Billy mempelajari bahasa itu? Bahasa kan harus dipelajari sedikit demi sedikit, dan bukan suatu ilmu yang tertanam sejak bayi... Entahlah, kenyataannya seperti itu.
Kekerasan Semasa Anak-anak
Mungkin dari awal Billy memang sudah punya bakat untuk memiliki kepribadian majemuk. Sang Guru menceritakan kalau Christene telah muncul sejak Billy masih kanak-kanak. Shawn yang tuli juga telah mengambil sebagian masa-masa Billy sebagai anak-anak.
Tapi Billy menjadi hancur berkeping-keping menjadi 23 pecahan (kecuali Sang Guru yang baru mewujud setelah di dalam perawatan) dipicu oleh kekejaman ayah tirinya semasa Billy delapan tahunan. Billy sering disiksa di gudang oleh ayah tirinya. Puncaknya adalah ketika Billy dikubur hidup2 oleh ayah tirinya. Mungkin karena tidak mau merasakan segala kepahitan itu, karakter asli Billy pergi meninggalkan pikirannya dan karakter lainnya pun bermunculan untuk mengisi kekosongan.
Kekerasan selama masa kanak-kanak memang seringkali bisa menciptakan bekas kejiwaan yang mendalam. Anak-anak yang tidak tahu mengapa mereka harus mengalami perlakukan seburuk itu, sebagian akan menyimpan ketakutan berupa trauma, sebagian lain menyimpan dendam dan ikut berperilaku buruk, sebagian lagi melarikan diri mencari tempat aman. Billy tampaknya melarikan diri dari perlakuan buruk ayahnya dengan pergi dari alam sadarnya. Sybill kabarnya juga mengalami hal yang serupa, setelah dia sering disiksa oleh ibunya di masa kecilnya. Pantaslah kalo banyak pihak menyerukan penghentian kekerasan terhadap anak-anak. Karena memang efeknya bisa sangat merusak masa depan anak yang menjadi korban kekerasan itu.
Entah apa yang dipikirkan oleh para penyiksa anak-anak itu. Apakah mereka itu melihat kelemahan anak-anak sebagai sasaran empuk untuk menyalurkan dorongan sadisme mereka ya? Yang jelas orang-orang itu pastilah juga memiliki gangguan kejiwaan di diri mereka sendiri. Orang yang sadar dan mampu menguasai diri tidak akan tega menyiksa anak2 yang tidak berdaya.
Penguasaan Diri
Kalo dipikir-pikir, sebenarnya kita sendiri juga pernah merasakan perubahan karakter dalam diri kita. Kalo lagi marah banget, kadang terasa kita ini seperti bukan lagi diri kita yang biasanya. Dalam keadaan marah seperti itu, biasanya kita kehilangan rasionalitas. Di kondisi sedih, kita juga bisa berubah jadi orang yang lemah tak berdaya. Tapi kalo lagi kondisi jatuh cinta, orang pun akan bisa berubah menjadi ceria berbunga-bunga sejuta rasanya... ah tanyain Uli atau Gita deh kalo soal masalah ini :D
Bedanya perubahan karakter seperti itu dengan perubahan karakter pada orang dengan kasus kepribadian majemuk adalah setiap karakter kita tetaplah mewakili kita. Pada saat kita berubah karakter, kita tetap sadar sebagai diri kita dan tidak kehilangan memori. Sedangkan pada orang berkepribadian majemuk, setiap karakter itu berdiri sendiri2. Bahkan setiap karakter Billy mempunyai nama masing2.
Yang menarik, Billy dibawah kepemimpinan karakter Arthur bisa mengatur dan menentukan karakter mana yang boleh dan tidak boleh memasuki "ruang utama". Sejumlah karakter telah di-black-list oleh Arthur dan tidak diperkenankan muncul karena dianggap hanya akan menimbulkan masalah. Bahkan karakter asli Billy termasuk karakter yang "ditidurkan", karena jika dia muncul ke ruang utama sering kali berusaha bunuh diri.
Mungkin kita yang normal ini juga tidak jauh berbeda. Pada dasarnya kita ini juga memiliki banyak karakter. Ada karakter yang kekanak2an, ada yang pemarah, ada yang super baik hati, ada yang religius, ada yang liar, ada yang kriminal. Sejalan dengan waktu dalam proses kita mematangkan diri, kita pun belajar untuk "menidurkan" karakter2 yang menurut kita tidak sepatutnya dimunculkan dalam mewujudkan image kepribadian yang ingin kita capai.
Sebagian orang menidurkan karakter liarnya dan hidup sebagai orang baik-baik. Sementara sebagian yang lain malah menghidupkan karakter liar dan hidup semaunya tanpa peduli norma. Sebagian orang menidurkan karakter pengecut dan pemalas sehingga bisa hidup penuh semangat dan perjuangan, sebagian yang lain malah menidurkan karakter pejuang sehingga menjadi orang malas tanpa semangat.
Seandainya kita tahu dan punya cara mudah bagaimana mengatur karakter2 yang ada pada diri kita, mungkin semua orang bisa menjadi pribadi2 unggulan...
Kabar Terakhir dari Billy Milligan
Billy Milligan tampaknya memang tidak cukup beruntung. Kabar terakhir disampaikan oleh Billy kepada Astraea pada musim gugur 1996.
Buku "24 Wajah Billy" ini, atau judul aslinya adalah "The Minds of Billy Milligan", telah dilanjutkan dengan buku selanjutnya berjudul "The Milligan Wars". Sayangnya buku kelanjutan ini baru diterbitkan di Jepang. Tidak diterbitkan di US karena buku ini menyerang banyak pihak di kalangan praktisi kesehatan jiwa di US.
Billy menuduh para dokter jiwa telah menjadikan pasien2nya sebagai mesin pencetak uang. Mereka tidak menginginkan pasiennya sembuh, karena jika sembuh mereka akan kehilangan sapi perahannya. Maka diciptakanlah kondisi yang malah membuat pasien2 itu semakin parah dan tergantung dengan dokter. Para dokter dan rumah sakit mental dengan seenaknya mematok biaya perawatan para pasien itu. Billy menemukan bahwa rumah sakit meminta bayaran $11.8 hanya untuk telur rebus dan secangkir susu.
Billy sendiri masih berhutang sebanyak $453,000 (!!) pada penguasa Ohio sebagai biaya perawatannya selama 11 tahun di rumah sakit mental. Billy baru bisa membayar $9,000 dari utangnya itu. Dan penguasa Ohio sedang berusaha untuk mendapatkan bagian dari hasil penjualan buku2 Billy untuk menutup utang Billy. Apalagi nanti jika film tentang Billy jadi dibuat.
Saat ini kabarnya memang sedang dibikin film yang berdasarkan kisah Billy Milligan ini. Film berjudul "The Crowded Room" telah lama direncanakan, dengan Joel Schumacher yang ditunjuk menjadi sutradaranya. Tapi tampaknya ini adalah proyek yang tidak jelas mati hidupnya. Kabar terakhir awal 2005 ini akan dimulai proses shooting, tapi hingga sekarang tidak ada kemajuan. Billy sendiri bahkan sudah sempat melatih beberapa aktor terkenal untuk memerankan dirinya, seperti Johnny Depp, Christian Slater, John Cusack, dan Leonardo diCaprio. Tapi belum ada kabar, siapa sebenarnya yang akan mengambil peran itu.
Kerumitan hidup Billy Milligan ternyata belum berakhir... (sumber: qyu)
Judul: 24 Wajah Billy
Pengarang: Daniel Keyes
Penerbit: Qanita
ISBN: 9793269375, 9789793269375
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook