Across the Nightingale Floor (Buku 1 dari Kisah klan Otori)
Kisah Klan Otori ini adalah novel trilogi karya Lian Hearn. Versi terjemahannya baru diterbitin oleh penerbit Matahati sampe buku yang kedua. Meskipun banyak pecinta buku yang suka antipati ama novel terjemahan, mending baca versi asli katanya, aku nggak terlalu peduli. Masalahnya yang terjemahan itu pasti lebih murah, soalnya kalo aku lagi kalap bisa langsung beli 5 novel sekaligus (entah bacanya kapan, itu urusan nanti :D). Jadi hubungannya ama budget emang :) Dan lagi kalo sampe diterjemahin gitu kan mestinya lumayan bagus. Jadi nggak terlalu harus berspekulasi. Meskipun nggak mesti juga sih :D
Waktu buku pertamanya terbit beberapa bulan yang lalu, Across the Nightingale Floor, rada males mo beli. Nggak terlalu tertarik baca cerita perkelahian para pendekar dengan intrik yang ruwet. Tapi waktu buku keduanya, Grass for His Pillow, terbit beberapa minggu yang lalu, eh kok pengen baca ya.. :D Ya udah, beli deh buku pertama. Sempet dianggurin seminggu, waktu giliran dibaca.. hehe.. nggak bisa berhenti. Begitu selesai, langsung beli buku kedua sabtu kemaren. Dan langsung habis sambil nunggu tahun baru :D...
Across the Nightingale Floor
Meskipun udah rada telat untuk review buku pertama, biar aja deh. Soalnya aku belum pernah bikin. Kalo langsung loncat ke buku kedua kan nggak lucu.
Nightingale Floor adalah nama untuk sejenis lantai yang dibuat sedemikian rupa sehingga kalo orang berjalan di atasnya pasti akan menimbulkan bunyi berdecit-decit mirip kicauan burung Nightingale alias burung bulbul (aduh.. dari nightingale kok jadi bulbul sih.. :D)
Yang memasang lantai ini di sekeliling rumahnya adalah Lord Iida Sadamu, pemimpin Klan Tohan. Setelah perang Yaegahara, klan Tohan telah berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Tiga Negara. Kekuasaan yang direbutnya secara paksa melalui perang itu jelas memunculkan banyak musuh yang menginginkan kematiannya. Dengan terpasangnya lantai bulbul (hehehe.. ) itu, dia akan bisa lebih nyenyak tidur di malam hari, karena tidak akan ada orang yang bisa mengendap2 melaluinya tanpa menimbulkan suara.
Dalam usahanya memperluas wilayah dan menghabisi orang2 yang dibencinya, Iida Sadamu juga membumi-hanguskan suatu desa di Mino yang dihuni kaum Hidden. Seluruh penduduk tewas. Kecuali seorang anak berusia belasan tahun. Anak ini kemudian ditemukan oleh Lord Otori Shigeru, pemimpin Klan Otori. Ia beri nama Takeo dan diangkat sebagai anak.
Takeo dididik sebagaimana layaknya anak ksatria. Dalam pelatihan2nya, Takeo menemukan kalo dirinya memiliki kemampuan supranatural yang tidak dimiliki orang biasa. Pendengarannya setajam anjing hingga bisa mendengarkan suara2 dari kejauhan. Ia juga mampu memunculkan sosok kedua untuk mengelabui lawan, dan mampu menidurkan anjing dengan tatapan mata. Yang memiliki kemampuan semacam itu biasanya adalah keturunan kaum Tribe, para pembunuh bayaran.
Lord Iida Sadamu yang sangat berkuasa, berniat membangun persekutuan dengan klan Otori dengan menikahkan Lord Otori Shigeru dengan Lady Kaede Shirakawa, dari klan Shirakawa yang telah tunduk kepada klan Tohan. Pernikahan dilakukan di tempat tinggal Lord Iida Sadamu di Inuyama, dimana Nightingale Floor terbentang....
Grass for His Pillow
Eh.. gimana ya bikin sinopsisnya buku kedua ini tanpa membocorkan ending buku pertama? errr... emmm... *bingung*
Pokoknya di buku kedua ini berkisah tentang sepasang muda-mudi yang baru berusia belasan tahun Takeo dan Kaede (yang pernah jadi calon istri Lord Otori Shigeru). Kedua orang ini di buku pertama saling tertarik dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi mereka tidak bisa bersatu begitu saja. Takeo diculik oleh kaum Tribe yang merasa berhak untuk memanfaatkan kemampuan Takeo yang memang keturunan Tribe. Padahal Takeo telah bersumpah setia kepada Lord Otori Shigeru untuk mengabdi kepada Klan Otori. Dan setelah dia resmi diangkat sebagai anak, dia adalah pewaris sah dari kepemimpinan Klan Otori.
Kaede sendiri adalah pewaris sah kepemimpinan Klan Shirakawa. Selain itu juga mendapat amanat mewarisi kepemimpinan Klan Maruyama dari kerabat dekatnya. Padahal sejak kecil dia ditahan di kastil oleh orang Tohan hingga saat dia akan dinikahkan, tanpa mendapat didikan apapun sebagai bekal untuk memimpin Klan-nya.
Kaede-pun berusaha mengejar ketertinggalannya. Di usia yang masih sangat muda, dia harus berpikiran dewasa untuk memimpin klannya. Tentu saja banyak yang meremehkan dan menolak kepemimpinan seorang wanita, tapi Kaede mengeraskan hati untuk meraih apa yang seharusnya ia raih. Walaupun setiap saat dia dilanda kerinduan kepada Takeo, yang ia tak tahu keberadaannya.
Buku kedua memang nggak terlalu seru dibanding buku pertama. Nggak terlalu banyak pertempuran. Lebih banyak ngobrol :D Tapi semua itu untuk meletakkan dasar buat buku ketiga mestinya. Takeo dan Kaede sedang mempersiapkan kekuatan untuk menyatukan wilayah yang menjadi hak mereka. Mungkin itulah makna dari judul buku kedua ini. Menyiapkan jerami untuk bantal kekuasaan kelak.
Kehidupan Jaman Feodal
Baca novel ini rasanya bisa ikut merasakan, gimana tertekannya hidup di jaman seperti itu. Pemimpin yang otoriter, salah dikit bisa dibunuh atau disiksa. Jadi rakyatnya jelas susah, tertindas banget. Jadi prajurit, mungkin ada sedikit kebanggaan, tapi nyawanya juga ada di ujung tanduk karena harus siap setiap saat untuk turun ke medan perang. Jadi bangsawannya juga banyak tekanan dan beban.
Mati kayaknya gampang banget. Prajurit dan bangsawan yang jago perang itu enak aja menebas kepala orang yang membangkang, membakar perkampungan lawan, menyiksa musuh sampai mati. Bunuh diri atau minta dibunuh dengan cepat karena rasa malu yang sangat juga gampang saja dilakukan, tanpa perlu berfikir panjang. Hidup mereka seperti sekedar bertahan hidup menunggu mati saja, sambil tetap berusaha menjaga kehormatan dan nama baik.
Eeerrrgghh.. mengerikan banget kehidupan seperti itu...
Kurang Jepang
Beberapa orang bilang kalo novel ini kurang "Jepang". Memang penulisnya bukan orang Jepang sih, orang Inggris kalo nggak salah. Dan dia cuma sempat beberapa bulan saja berada di Jepang. Latar-belakang Jepang dia bangun sendiri berdasarkan data-data yang ada dan dari narasumber orang2 Jepang.
Ya gimana nggak ilang rasa Jepangnya, kalo tokoh2nya dipanggil dengan gelar "Lady" dan "Lord" yang jelas Inggris banget (di versi terjemahan juga tetap digunakan "Lady" dan "Lord"). Istilah2 Jepang juga sangat jarang dipake. Hampir semuanya sudah dialih-bahasakan ke bahasa inggris lalu ke bahasa indonesia. Kecuali beberapa nama benda yang memang tidak ada padanannya. Jadi jangan harap bakal bisa sekalian belajar bahasa Jepang, seperti kalo lagi baca Kho Ping Hoo bisa sekalian belajar bahasa mandarin ala kangouw :D
Beberapa ciri khas yang sangat identik dengan Jepang juga hampir tidak pernah muncul. Tidak disebutkan kalo mereka makan pake sumpit. Bunga Sakura juga sepertinya tidak pernah disebutkan... Makanan2 khas Jepang seperti sushi, sashimi, dan lain2 tidak pernah disebut, apalagi restoran hoka-hoka bento... eh .. belon ada ya? .. hehehe. Padahal adegan tokohnya lagi makan itu sering banget. Paling cuma sake yang selalu disebut.
Detil, Indah, dan Dalam
Meskipun begitu, di sisi lain, penulis berhasil menciptakan suasana setting yang sesuai dengan imajinasi Jepang kuno. Aku sih patokan yang paling gampang ya, mbayangin settingnya Oshin :D Kaede juga aku bayangin kayak Oshin remaja. Cantik, putih, lemah lembut, tampak rapuh tapi bisa berperilaku keras saat dibutuhkan.
Bahasanya cukup indah berbunga-bunga saat melukiskan suasana alam, dari warna bunga, bebauannya, hingga suara2 yang terdengar. Semua dituturkan dengan detail.
Penggambaran Jepang kuno yang sangat feodal juga kena banget hingga ke detil2nya. Setiap kali ada adegan pertemuan dengan bangsawan, sang tamu selalu digambarkan membungkukkan badan hingga keningnya menyentuh lantai. Dan baru akan mengangkat tubuhnya setelah dipersilakan oleh tuan rumah. Bertatapan mata tidak boleh sembarang dilakukan. Pembicaraan antar bangsawan juga digambarkan sangat penuh basa-basi dan penuh kepura-puraan. Priyayi abis deh... :D
Detil-detil itu bikin alur cerita jadi agak lambat. Penuh konflik tapi berjalan pelan. Untungnya nggak sampe jatuh jadi membosankan. Tetap menarik, rasanya jadi seperti hanyut dalam kontemplasi tokoh utamanya.
Jadi samar2 inget ama Musashi. Alurnya yang lambat hampir mirip, sering masuk ke dalam perenungan si tokoh utama juga sama. Tapi ini nggak terlalu jauh berfilosofi seperti Musashi. Aku dulu kayaknya suka nggak sabar baca Musashi, maklum masih smp, tapi tetep maksa baca sampai selesai semua. Dan aku udah lupa jalan ceritanya kayak apa. Nyari apa sih Musashi itu? Yang keinget paling cuma waktu Musashi nangkep lalat pake sumpit :D
Full Intrik
Namanya kisah tentang para ksatria pastilah isinya tentang intrik perebutan kekuasaan. Begitu juga novel ini. Ada 5 klan besar yang berebut kekuasaan. Klan Otori, Klan Maruyama, Klan Sheisuu, Klan Shirakawa, dan Klan Tohan. Ada yang saling bersekutu, ada yang musuh bebuyutan, ada yang telah tunduk menyerah ke klan yang lain tapi tetap menyimpan dendam. Di luar itu ada yang namanya kaum Tribe. Mereka adalah orang2 yang secara alami memiliki kemampuan supranatural. Tapi tidak memihak salah satu klan. Mereka adalah orang bayaran yang bersedia diperintah para penguasa asalkan mendapatkan imbalan.
Takeo sendiri, si tokoh utama, dari garis ibunya adalah keturunan kaum Hidden yang banyak dibenci kalangan lain karena kepercayaannya kepada Tuhan yang tunggal. Sementara ayahnya adalah orang Tribe yang membelot dan dibunuh. Selain itu dia juga memiliki darah Otori. Ketiga garis darah itu sering tarik menarik dan menimbulkan kekalutan sendiri di kehidupannya.
Memang di intrik2 itulah yang bikin novel ini jadi seru. Ditambah adegan2 action berupa pertempuran, perkelahian, atau penyusupan yang walaupun penuh darah, tapi tetep diceritakan dengan elegan. Apalagi jagoannya disini punya kemampuan supranatural yang melebihi orang2 kebanyakan, wah tambah asik aja. Tapi kemampuan supranatural sang jagoan disini nggak sampe berlebihan seperti para X-men, dan diceritakan dengan tidak berlebihan juga. Jadinya si jagoan ini bisa tetap terasa sebagai manusia.
Pasti asik kalo difilmkan. Dan kabarnya hak pembuatan film untuk buku pertama telah dibeli oleh Universal Picture, meskipun belum denger kabar kelanjutannya kapan bakal direalisasikan.
Hmmmh... nunggu buku ketiga nih, Brilliance of the Moon. Mestinya seru tuh... (sumber: qyu)
Judul: Across the nightingale floor (Buku 1 dari Kisah klan Otori)
Penulis: Lian Hearn
Penerbit: Penerbit Matahati, 2005
ISBN: 9799840716, 9789799840714
Tebal: 382 halaman
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook
Negara Kelima (edisi terbaru)
"Es Ito, lahir pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya seorang petani, bapaknya seorang pedagang". Cuma itu yang tertulis pada profil penulis novel "Negara Kelima" ini. Singkat, tidak berlebihan, tidak ingin menonjolkan apapun selain kesederhanaan. Tidak ingin memberikan pretensi apapun sebelum pembaca membaca tuntas novel ini.
Diterbitkan oleh Serambi, yang juga nerbitin terjemahan Da Vinci Code, pada bulan Oktober 2005. Sudah lebih 2 bulan mestinya, tapi baru minggu lalu aku temukan di jajaran novel baru di toko. Dan aku juga belum pernah mendengar ada orang membahas atau mempromosikannya. Tapi memang belum pernah dengar sih penerbit Serambi melakukan acara launching besar untuk buku2 terbitannya. Padahal menurutku, novel sekuat ini pantas untuk dipromosikan besar2an.
Ugh... agak bingung aku harus mulai darimana untuk mencuplik novel ini. Secara banyak sekali hal2 yang meletup-letup ingin ditulis :)
Tokoh utamanya adalah Inspektur Timur Mangkuto, perwira polisi yang malah menjadi buronan karena diduga terlibat dalam kasus pembunuhan empat orang. Tiga orang gadis muda dan seorang perwira polisi yang sebenarnya adalah sahabat dekatnya. Sebuah simbol dari satu kelompok radikal digoreskan pada tubuh dua orang korban. Sementara beberapa hari sebelumnya polisi telah berhasil menggerebek markas dari kelompok tersebut, meski hanya berhasil menahan 2 orang yang cuma bisa memberikan teka-teki tentang Negara Kelima tanpa jawaban. Timur Mangkuto pun dicurigai sebagai anggota kelompok tersebut yang disusupkan dalam tubuh kepolisian.
Dalam pelariannya Timur Mangkuto akhirnya bertemu dengan Eva Duani, ahli sejarah Indonesia, dan ayahnya Profesor Duani Abdullah. Bersama dengan Eva dan dipandu Profesor Duani mereka mencoba menyibak teka-teki Negara Kelima demi mengungkap siapa dan apa tujuan dari kelompok radikal itu, untuk selanjutnya membebaskan Timur Mangkuto dari segala tuduhan.
Menguak Nusantara Kuno
Pernah ngikutin diskusi atau pembahasan tentang Atlantis benua yang tenggelam itu nggak? tentang dimana letaknya, pada masa mana Atlantis pernah jaya, dan sebagainya. Pernah dengar satu pendapat yang mengatakan kalo selain pulau Kreta atau kepulauan Karibia sebagai lokasi yang diduga sebagai lokasi dari Atlantis kuno, kepulauan Nusantara juga dianggap sebagai lokasi yang mungkin sebagai sisa2 dari kebesaran Atlantis. Kalo terdengar seperti dongeng yang terlalu mengada-ada, silakan baca alinea terakhir dari tulisan ini :)
Pernah dengar isu2 atau diskusi kecil dari orang2 yang yakin dan percaya tentang adanya leluhur2 yang masih menguasai Nusantara dan suatu saat akan membangkitkan kembali kejayaan Nusantara? Banyak lo orang2 seperti ini.
Seorang Bapak tua yang sering berkunjung ke rumahku bisa berapi-api penuh semangat kalo menceritakannya. Seorang Dosenku yang bertampang misterius juga pernah sekilas mengungkapkan masalah itu. Dia bahkan sempat terlibat dan disorot media sebagai orang2 yang berniat mengungkap keberadaan Dana Revolusi beberapa tahun yang lalu. Tapi kemudian dia urung melakukannya karena begitu banyak orang2 yang "meminta bagiannya" :(. Dan satu lagi seorang seleb yang tampaknya punya gagasan yang serupa, Ray Sahetapy, dengan salamnya yang khas "Salam Nusantara".
Yap, mereka selalu menyebut negara Nusantara, bukan Indonesia. Nama Indonesia hanyalah peninggalan kolonial Belanda. Sedangkan Nusantara punya sejarah yang jauh lebih tua dan lebih besar dari itu.
Lalu apa juga pernah dengar dongeng2 dari orang Minang yang mengisahkan kalo nenek moyang orang Minang bukanlah dari daratan Yunan di Cina, tapi mereka adalah keturunan dari Iskandar Agung yang pernah menaklukkan separuh dunia beberapa ratus tahun sebelum masehi? Hikayat ini mestinya semua orang Minang pernah dengar karena memang menjadi bagian dari kisah2 yang dituturkan turun-temurun. Meskipun seorang temanku yang asli Minang malah tertawa lebar2 waktu menceritakannya padaku.
Semua rumor2 yang mungkin sulit dipercaya itu malah menjadi latar belakang utama dari novel ini. Kalau anda menganggap itu semua lelucon tidak lucu dan tidak akan pernah mau percaya, maka novel ini sama sekali tidak dianjurkan untuk dibaca. Karena hanya akan anda anggap sebagai lelucon sampah. Tapi kalo mau tahu lebih jauh tentang rumor2 itu dan mau sedikit membuka diri untuk hal2 baru, silakan menikmati petualangan seru di novel ini.
"Nusantara Code"?
Nggak bisa dielakkan, saat baca novel ini akan terasa ada pengaruh dari gaya penulisan Dan Brown di DVC. Caranya membagi novel ini dalam bab2 pendek hingga total berjumlah 71 bab mirip dengan DVC. Lalu di akhir setiap bab selalu ada pertanyaan yang dibiarkan menggantung atau ada suatu kejutan yang baru akan dijelaskan di bab berikutnya. Alur cerita yang terpecah menjadi tiga dan dikisahkan bergantian satu demi satu hingga akhirnya semuanya bertemu. Itu semua mengingatkan pada cara penuturan Dan Brown.
Apalagi novel ini juga mengungkap tentang sejarah masa lalu yang tidak banyak diketahui umum. Suatu interpretasi baru terhadap sejarah yang bisa memutar-balikkan pemahaman orang tentang hal yang selama ini sudah diyakini begitu adanya.
Juga adanya proses pemecahan teka-teki yang cukup menguras tenaga, otak dan waktu untuk berkutat dengan sejumlah buku dan dokumen. Lalu ada juga sedikit permainan sandi.
Nggak bisa enggak pasti orang akan kepikiran "kok terasa mirip ama DVC ya?". Bahkan mungkin bakalan ada yang kasih gelar "Da Vinci Code versi Indonesia" atau malah "Nusantara Code" :)
Tapi karena kisah dan latar belakangnya sangat berbeda dan sama sekali terlepas dari DVC, hanya alurnya saja yang mirip, menurutku novel ini masih tetep bisa berdiri dengan bangga sebagai dirinya sendiri.
Diselesaikan dengan Baik
Meskipun ada sedikit kesan mengekor, tapi semuanya diselesaikan dengan sangat baik oleh Es Ito.
Salut banget dengan data2 yang memenuhi novel ini. Penulis pasti harus melakukan seabreg-abreg riset dan pengumpulan data baik dari buku2 sejarah atau mewawancara para pelaku sejarah itu sendiri. Data2 disini amat sangat lengkap. Ada kutipan panjang kitab dialog Timaues and Critias karangan Plato yang menggambarkan dan mengisahkan hikayat Atlantis. Ada sejarah panjang hikayat orang Minangkabau menurut cerita Tambo dari kisah anak2 Iskandar Agung, terbentuknya hukum dan adat minang, hingga berubahnya hirarki waris adat minang dari patrilinial menjadi matrilineal sebagai siasat perang. Ada mengupas isi prasasti Kedukan Bukit tentang berdirinya Sriwijaya. Ada nukilan2 dari kitab Pararaton mengungkap hubungan Majapahit dan kerajaan Melayu. Ada juga kisah napak tilas Sjafruddin Prawiranegara saat mengumumkan berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera pada 1948 yang hampir tidak pernah menjadi bagian dari sejarah Indonesia Merdeka. Semua data itu dijalin dan dihubung2kan dengan mulus tanpa celah oleh penulis dan menyajikan interpretasi baru atas sejarah Nusantara dan menjadi latar belakang novel ini. Kalo suka ama cerita sejarah, novel ini untuk anda ;)
Kalopun nanti ada yang meragukan isi novel ini, mungkin bakalan dari sisi kevalidan data atau kevalidan interpretasi yang diambil penulis. Karena aku bukan ahli sejarah, jadi ya nggak tau kalo ada lobang2 dari sisi itu. Tapi tampaknya sih meyakinkan sekali.
Peristiwa demi peristiwa disusun dan direncanakan dengan baik. Tidak ada peristiwa tempelan yang tidak akan menjadi satu bagian petunjuk dari inti cerita. Ketegangan juga tidak pernah berhenti dari awal, sampe aku harus beberapa kali meletakkan buku ini beberapa saat untuk menurunkan ketegangan sebelum larut lagi kedalamnya. Intrik2 yang dijalin juga cukup rumit. Banyak hal2 tak terduga yang berhasil dimunculkan tanpa tertebak sebelumnya. Cuma satu hal yang sempat aku tebak dari awal dan benar terjadi.
Kejanggalan Kecil
Ada sih kejanggalan2 kecil, seperti penyebutan "labtop" bukannya "laptop" di seluruh bagian novel, lalu juga penulis yang keukeuh nulis nama kelompok radikal itu sebagai KePaRad secara "case sensitive" bahkan dalam dialog, juga kebiasaan penulis selalu menyebut nama tokoh dengan nama lengkap (Timur Mangkuto, Eva Duani, Ilham Tegas dll) bikin kesan formil dan berjarak antara pembaca dengan tokoh2 itu.
Juga kadang-kadang ada terasa kedodoran dalam melukiskan emosi pelaku. Ada emosi2 yang seharusnya digambarkan untuk menyempurnakan situasi adegan tapi dilewatkan oleh penulis. Seperti misalnya saat penggeledahan rumah Profesor Duani, lalu juga saat adegan puncak klimaks yang terlalu cepat dan kurang emosional padahal sekian banyak orang terlibat disana.
Terus aku juga rada protes ama satu hal ini: [spoiler] Tentang pengiriman file video sebesar 30 MB via email, kayaknya gampang dan bisa cepat aja dilakukan. Kenapa nggak dicritain file video itu masih bisa diselamatkan dari harddisk dari laptop yang hancur karena file itu cuma di "klik kanan - delete" bukan di "shift+delete". Hehehehe.....
Tapi kejanggalan2 itu bisa tertutup dengan ketegangan2 yang silih berganti yang terus menerus melingkupi benak pembaca.
Eh iya, ada satu hal lagi yang terasa kurang. Akan lebih baik lagi kalo novel ini dilengkapi gambar2 pendukung. Seperti peta sumatra dan jawa biar pembaca bisa konsentrasi membaca saja, tidak perlu buka2 buku atlas. Terus juga gambar dari simbol kelompok radikal yang selalu dituliskan sebagai "Piramid dengan belahan diagonal pada bagian alasnya". Rada bingung aku ngebayangin kayak apa sih simbol itu?
Moral of The Story
Banyak sekali isu-isu yang disentil novel ini. Aparat yang korup, sibuk berebut mencari bagian harta dan kekuasaan. Ilmuwan yang tunduk kepada uang. Penghargaan yang rendah atas benda2 peninggalan sejarah. Anak muda yang resah dengan kerusakan bangsa dan berbelok menjadi radikal di satu sisi. Dan anak muda yang tidak peduli sekitar hanya mencari kesenangan sesaat di sisi yang lain.
Dari cerita Tambo orang Minang yang panjang lebar dibahas, bisa diambil juga nilai2 dalam membentuk masyarakat yang adil. Suatu pemerintahan ideal yang diidamkan Plato. Kemungkinan besar sih penulis adalah memang orang Minang. Selain karena paham banget dengan adat istiadat Minang, juga saat menuliskan dialog dari tokoh yang Minang totok dia bisa sangat menjiwai dan membuatnya sangat Minang :)
Paparan sejarahnya juga membuka mataku lebar2 tentang hal2 baru yang selama ini nggak pernah diungkap. Memang, itu adalah suatu interpretasi, dan yang tahu apa yang terjadi sebenarnya hanyalah pelaku aslinya dan Tuhan. Tapi paling nggak jadi paham kalo kisah sejarah itu dilihat dari sisi yang lain bisa jadi sangat berbeda. Padahal sejarah itu kan tempat suatu bangsa bercermin dan belajar. Makanya sangat fatal sekali kalo ada penguasa2 yang melakukan pemutarbalikan sejarah demi kepentingannya sendiri...
***
"Jadi, apakah benar kepulauan Nusantara ini pada masa lalunya adalah Atlantis, benua yang tenggelam itu?
Baca aja sendiri dan temukan jawabannya menurut Es Ito ;)
Aku sih rasanya nggak rela kalo sejarah Nusantara dikait2kan dengan mitos Yunani yang menyembah dewa2 yang sering ribut itu, apalagi critanya penguasa Atlantis itu adalah anak dari hasil incest dewa Poseidon... ihhh... nggak rela ah punya nenek moyang cabul gitu :P (sumber: qyu)
Judul: Negara Kelima (edisi terbaru)
Penulis: Es Ito
Penerbit: Penerbit Serambi
ISBN: 9790240457, 9789790240452
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook
Iblis dan Miss Prym
Aku baru tahu kalo Paulo Coelho punya trilogi. Baru tahu setelah baca novel yang ini, "Iblis dan Miss Prym" atau judul aslinya "Devil and Miss Prym". Itu juga nggak bakalan tahu kalo nggak dikasih tahu Coelho sendiri di kata pengantarnya kalo novel ini adalan bagian dari suatu trilogi. Soalnya trilogi Coelho ini bukanlah tiga buku yang ceritanya menyambung saling terkait satu sama lain, tapi triloginya terletak pada alur ceritanya yang mirip.
Pada Hari Ketujuh
Coelho menyebut triloginya ini sebagai trilogi "And on the seventh day". Yang menjadi bagian dari trilogi ini adalah "By the River Piedra I Sat Down and Wept", "Veronica Decides to Die", dan "Devil and Miss Prym". Pada ketiga kisah itu para pelaku utamanya tiba-tiba dihadapkan pada suatu masalah besar yang bertenggat waktu hanya tujuh hari. Pilar, tokoh di "By the River Piedra..", tiba-tiba dihadapkan pada kegamangan antara cinta dan spiritualitas selama tujuh hari. Veronica divonis akan mati pada hari ketujuh. Dan Chantal Prym beserta penduduk desanya harus membuat keputusan menjadi si Baik atau si Jahat dalam tujuh hari. Semuanya berkisah tentang suatu perubahan besar yang terjadi dalam rentang waktu yang sempit.
Coelho bilang di bagian catatan penulis :
"Ketika sama sekali tidak disangka-sangka, kehidupan justru menyodorkan kepada kita tantangan untuk menguji keberanian dan kemauan kita untuk berubah; jika saat seperti itu tiba, tidak ada gunanya berpura-pura sesuatu tidak terjadi, atau mengatakan kita belum siap.
Tantangan itu tidak akan menunggu. Hidup tidak menoleh ke belakang. Satu minggu lebih dari cukup bagi kita untuk memutuskan, apakah kita akan menerima takdir kita atau tidak"
Hmmm.. perubahan besar memang kadang tidak memerlukan waktu lama untuk terjadi. Tinggal bergantung kepada yang menjalani, mau berubah dan menapaki kehidupan baru, atau tetap bertahan tapi mengeluh tiap hari :)
Iblis dan Miss Prym
Seorang pria asing datang ke Viscos, sebuah desa yang damai tapi terpencil dan berpenduduk hanya 281 orang. Luka di dalam hati pria itu membuatnya ingin melakukan pembuktian bahwa luka itu terjadi karena manusia pada hakikatnya adalah jahat. Untuk itu dia akan memanfaatkan penduduk Viscos guna membuktikan keyakinannya itu.
Chantal Prym, gadis yatim piatu penduduk termuda di Viscos yang menjadi penjaga bar di hotel, dimintai tolong oleh si pria asing untuk menyampaikan rencananya kepada penduduk Viscos. Pria asing itu akan menghadiahkan secara cuma-cuma sepuluh batangan emas kepada penduduk Viscos, jika sebelum hari ketujuh mereka mau melanggar salah satu larangan Tuhan. Membunuh.
Sementara Miss Prym sendiri dijanjikan oleh si pria asing itu satu batangan emas yang telah diperlihatkannya dan disembunyikan di tempat yang mereka berdua ketahui, jika Miss Prym bersedia menolongnya. Dan Miss Prym punya pilihan untuk menolongnya atau mencuri emas itu dan pergi. Tapi jika Miss Prym mencurinya, maka itu akan menguatkan keyakinan pria asing itu bahwa jika manusia diposisikan pada suatu kondisi yang memungkinkan maka dia akan menjadi jahat. Dan jika Miss Prym tidak bersedia menolongnya, pria itu akan menyampaikan sendiri rencananya kepada penduduk Viscos.
Miss Prym pun dilanda kegalauan. Begitu juga penduduk Viscos. Penduduk Viscos, yang pada dasarnya tidak terlalu religius, tergoda untuk mendapatkan kesempatan untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik. Tapi mampukah mereka memilih dan membunuh salah satu penduduk demi sepuluh batang emas?
Pertarungan Baik dan Jahat
Coelho menyajikan suatu pertentangan yang rumit antara baik dan jahat. Orang-orang yang selama ini hidup dalam kedamaian penuh persaudaraan dan kejujuran tiba-tiba dihadapkan pada satu pilihan sulit. Melewatkan kesempatan dan bertahan dalam kondisi yang ada untuk menuju kehancuran yang lebih jauh, atau mengambil kesempatan untuk merubah kehidupan tapi harus melanggar moral dan mengorbankan orang lain.
Konflik yang jalin menjalin didalam diri Miss Prym, penduduk Viscos, bahkan si pria asing itu sendiri seolah-olah mengupas satu demi satu apa yang juga sedang terjadi pada diri kita.
Coelho bahkan sempat menyindir melalui tulisannya, bahwa kemurah-hatian, kehidupan tenang yang dijalani oleh penduduk Viscos sebenarnya adalah cermin dari kepengecutan. Kemurah-hatian yang nampak itu sebenarnya adalah topeng dari ketidak-beranian bertindak untuk memperjuangkan hak. ah....
Sayangnya, konflik yang dialami penduduk Viscos ini dituntaskan oleh Coelho dengan menggunakan penyelesaian berdasarkan logika dari suatu proses, bukan menggunakan filosofi yang mencerahkan tentang baik dan jahat. Agak mengecewakan memang, tapi kalo mengingat penduduk Viscos digambarkan sebagai masyarakat yang tidak terlalu religius, tampaknya itu memang penyelesaian yang logis. Untungnya pada bagian akhir, Coelho memberikan jawaban yang pas untuk pertanyaan si pria asing itu melalui kisah2 Ahab si penjahat dan St.Savin si orang suci.
- Jika malam ini pelacur tercantik desa ini datang kemari, apakah kau akan sanggup memandangnya dan menganggapnya tidak cantik dan tidak menggoda?
+ Tidak, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku.
- Jika aku menawarimu setumpuk kepingan uang emas agar kau meninggalkan guamu di gunung dan bergabung dengan kami, sanggupkah kau memandang emas itu dan menganggapnya batu kerikil?
+ Tidak, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku.
- Dan jika kau dicari-cari oleh dua bersaudara, yang satu membencimu dan yang lain menganggapmu suci, sanggupkah kau memiliki perasaan yang sama terhadap keduanya?
+ Itu benar-benar sulit, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku sendiri dan memperlakukan mereka dengan sama
fuih...
Soal Moral
Novel ini mencoba mempertanyakan seberapa jauhkah nilai2 moral itu mampu melekat dalam diri manusia? Jika manusia diletakkan pada posisi dimana dia bisa dengan bebas melakukan hal yang melanggar moral, apalagi jika dia akan mendapatkan keuntungan dari pelanggaran moral tersebut, akankah dia akan mampu mempertahankan nilai2 moral yang diyakininya?
Coelho tampaknya ingin membuat novelnya realistis, bukan suatu kisah dongeng ideal yang dengan jelas mengkotak-kotakkan orang baik dan orang jahat. Mereka yang tampak baik dari luar, ternyata punya potensi untuk melakukan kejahatan. Mereka tidak melakukan kejahatan itu bukan karena kesadaran bahwa kejahatan itu bisa merugikan dan mencelakai orang lain, tapi karena takut akan hal-hal lain yang akan berimbas ke kehidupan mereka jika kejahatan itu dilakukan. Sekali lagi Coelho mengejek orang-orang pengecut.
"Bukanlah keinginan untuk patuh pada hukum yang membuat orang berperilaku seperti yang dituntut masyarakat, melainkan rasa takut pada hukuman. Kita masing-masing membawa tiang gantungan di dalam diri kita."
Ya, seharusnya setiap manusia sadar bahwa mereka tidak hidup sendiri, dan bahwa hak-hak mereka berbatasan dengan hak-hak orang lain. Rentannya persinggungan hak satu sama lain itulah yang menciptakan nilai2 moral dan etika. Nilai2 yang harus dihormati dan dipatuhi agar bisa hidup berdampingan dengan baik tanpa saling merugikan. Jadi kepatuhan pada aturan seharusnya adalah suatu kesadaran untuk tidak melanggar hak orang lain, bukan karena takut pada hukuman.
Anda sendiri, jika dijanjikan sebatang besar emas asal mau melanggar salah satu perintah Tuhan, apa yang akan anda lakukan? Dan kenapa milih melakukan itu? ;) (sumber: qyu)
Judul: Iblis dan Miss Prym
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2006
ISBN: 9792216073, 9789792216073
Tebal: 251 halaman
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook
24 Wajah Billy
Kepribadian Majemuk atau bahasa kerennya MPD/DID (Multiple Personality Disorder / Dissociative Identity Disorder), mestinya pernah denger kan istilah itu? Tentang orang yang kadang berubah-ubah kepribadiannya. Sesaat baik tapi disaat lain berubah jadi jahat. Fenomena ini kayaknya sering diangkat jadi tema di film ato cerita fiksi. Yang paling terkenal mungkin ya cerita "Dr. Jekyll and Mr. Hyde". Terus ada juga film "Nutty Professor" yang ceritanya mirip2. Tapi di cerita2 ini, orang2 itu bisa berubah kepribadian karena pengaruh meminum campuran bahan kimia tertentu, ato karena pake topeng ajaib seperti "The Mask". Bukan karena adanya gangguan mental.
Nha yang lagi mau aku bahas disini adalah kepribadian majemuk karena gangguan mental. Kebetulan baru baca buku yang menceritakan kisah nyata seseorang yang memiliki kepribadian majemuk. Bukunya berjudul "24 Wajah Billy". Sebelumnya buku ini muncul, sudah pernah ada buku serupa tentang kisah nyata dari "Sybill" yang berkepribadian 16. Mungkin banyak yang udah baca "Sybill, tapi aku belum. Jadi nggak bisa mbandingin.
Kisah Billy Milligan
Buku ini bercerita tentang Billy Milligan yang ditangkap polisi di Ohio karena dituduh melakukan penodongan dan pemerkosaan terhadap tiga orang wanita. Dalam pemeriksaan ditemukan ternyata si Billy ini memiliki kepribadian majemuk. Atas rekomendasi beberapa psikiater termasuk psikiater yang pernah menangani Sybill, Billy dinyatakan memerlukan perawatan untuk menstabilkan pribadinya. Hakim pun memutuskan Billy tidak cukup waras untuk disidang dan mengirimnya ke rumah sakit mental dengan pengawasan.
Atas ketelatenan Dr. Caul, Billy pelan2 mulai bisa memahami dirinya dan setiap karakternya mau bekerja sama dengan Dr. Caul dalam terapi2 yang diberikan. Dan dalam satu kondisi yang mendukung Billy akhirnya mampu membuat satu karakter baru yang merupakan penyatuan seluruh karakter yang ada di dirinya. Tapi karakter penyatuan ini masih timbul tenggelam, tidak bisa seterusnya menguasai diri Billy.
Sayangnya, sebagian masyarakat masih menganggap Billy sebagai penjahat kambuhan yang berbahaya. Menurut mereka penjahat seperti Billy tidak seharusnya mendapat fasiltas dan kebebasan seperti yang diberikan rumah sakit tempat Billy dirawat. Media massa lokal dengan gencar memberitakan ketidakadilan dan ketakutan yang dihadapi masyarakat. Bahkan seorang senator juga memanfaatkan isu Billy untuk meraih simpati masyarakat.
Tudingan dan hujatan itu pun sampai ke telinga Billy dan membuatnya depresi. Dalam keadaan depresi, Billy tidak mampu lagi memunculkan "Sang Guru" karakter utuhnya untuk mengendalikan pikiran dan tubuhnya. Apalagi saat disidang kembali Hakim memutuskan Billy harus dikirim ke rumah sakit mental yang pengawasannya seketat penjara. Dan kenyataannya rumah sakit itu lebih mirip kamp konsentrasi. Billy pun kembali hancur kepribadiannya.
Memang kisah Billy tidak happy ending seperti Sybill, katanya yang sudah baca akhirnya mampu menyatu kembali dengan sukses setelah melalui proses selama sepuluhan tahun. Yang membedakan Billy dari Sybill, dan yang kemudian menjadikan Billy tidak bisa mencapai penyatuan secara utuh seperti Sybill, adalah Billy telah melakukan perbuatan kriminal yang membuat masyarakat membencinya. Dan kemudian masyarakat membuat keputusan Billy tidak layak untuk hidup normal.
Ajaibnya Kepribadian Majemuk
Sebenarnya jarang banget ditemuin kasus kepribadian majemuk ini. Tapi karena kasus ini menciptakan suatu kisah yang kompleks dan dramatis, jadinya banyak orang terinspirasi untuk mengangkat kasus ini sebagai sebuah cerita.
Sulit mbayangin, bagaimana di satu tubuh bisa terpecah-pecah menjadi banyak karakter. Masing-masing karakter itu punya sifat-sifat unik yang berbeda-beda. Masing2 juga bisa punya keahlian dan ketrampilan sendiri yang tidak dimiliki karakter yang lain. Di dalam tubuh Billy, ada Arthur yang cerdas dan analitis, ada Ragen yang temperamental dan kuat fisiknya, ada Allen yang pandai berbicara, ada Tommy yang trampil dalam banyak keahlian. Masing-masing kemampuan itu hanya dimiliki oleh karakter yang bersangkutan. Ketika Tommy berada di "ruang utama" jangan suruh dia berbicara banyak seperti Allen, karena Tommy cenderung antisosial.
Dalam tubuh Billy juga ada karakter anak-anak, Danny, David, dan Christene. Mereka muncul jika Billy merasa tak berdaya. Dan yang mengejutkan lagi, ada karakter wanita dalam tubuh Billy. April dan Adalana. Bahkan Adalana adalah karakter yang bertanggung jawab atas pemerkosaan yang dilakukan Billy. Karena Adalana adalah seorang lesbian yang haus cinta.... Rumit banget dah..
Masing-masing karakter ini memiliki memori mereka sendiri2. Pada awalnya masing2 tidak pernah tahu apa yang terjadi ketika Billy dikuasai oleh karakter yang lain. Sehingga masing2 karakter itu sering merasa kehilangan waktu, karena si karakter baru sadar kembali ketika dia punya kesempatan untuk memasuki "ruang utama" lagi.
Arthur pernah memutuskan untuk pergi ke kampung halamannya di Inggris selama beberapa hari. Apa daya ketika sudah di Inggris, Arthur kehilangan tempat utama. Saat karakter lain mengambil posisi, diapun bingung kenapa bisa berada di Inggris. Dengan segera memutuskan untuk kembali ke US. Arthur baru kembali menguasai "ruang utama" saat sudah berada di apartemennya, dan ketika tahu ternyata dia tidak di Inggris lagi Arthurpun marah besar... Semacam itulah kerumitannya...
Yang agak aneh, masing2 karakter ini seolah mempunyai kehidupan masa lalu nya sendiri2. Arthur mengatakan kalo dia orang Inggris, dan cara berbicaranya pun sangat kental dengan logat Inggris. Padahal Billy belum pernah sama sekali ke Inggris. Bahkan Ragen, mengaku kalo dia adalah orang Serbo-Kroasia dan bisa dengan lancar berbahasa Serbo-Kroasia... dari mana Billy mempelajari bahasa itu? Bahasa kan harus dipelajari sedikit demi sedikit, dan bukan suatu ilmu yang tertanam sejak bayi... Entahlah, kenyataannya seperti itu.
Kekerasan Semasa Anak-anak
Mungkin dari awal Billy memang sudah punya bakat untuk memiliki kepribadian majemuk. Sang Guru menceritakan kalau Christene telah muncul sejak Billy masih kanak-kanak. Shawn yang tuli juga telah mengambil sebagian masa-masa Billy sebagai anak-anak.
Tapi Billy menjadi hancur berkeping-keping menjadi 23 pecahan (kecuali Sang Guru yang baru mewujud setelah di dalam perawatan) dipicu oleh kekejaman ayah tirinya semasa Billy delapan tahunan. Billy sering disiksa di gudang oleh ayah tirinya. Puncaknya adalah ketika Billy dikubur hidup2 oleh ayah tirinya. Mungkin karena tidak mau merasakan segala kepahitan itu, karakter asli Billy pergi meninggalkan pikirannya dan karakter lainnya pun bermunculan untuk mengisi kekosongan.
Kekerasan selama masa kanak-kanak memang seringkali bisa menciptakan bekas kejiwaan yang mendalam. Anak-anak yang tidak tahu mengapa mereka harus mengalami perlakukan seburuk itu, sebagian akan menyimpan ketakutan berupa trauma, sebagian lain menyimpan dendam dan ikut berperilaku buruk, sebagian lagi melarikan diri mencari tempat aman. Billy tampaknya melarikan diri dari perlakuan buruk ayahnya dengan pergi dari alam sadarnya. Sybill kabarnya juga mengalami hal yang serupa, setelah dia sering disiksa oleh ibunya di masa kecilnya. Pantaslah kalo banyak pihak menyerukan penghentian kekerasan terhadap anak-anak. Karena memang efeknya bisa sangat merusak masa depan anak yang menjadi korban kekerasan itu.
Entah apa yang dipikirkan oleh para penyiksa anak-anak itu. Apakah mereka itu melihat kelemahan anak-anak sebagai sasaran empuk untuk menyalurkan dorongan sadisme mereka ya? Yang jelas orang-orang itu pastilah juga memiliki gangguan kejiwaan di diri mereka sendiri. Orang yang sadar dan mampu menguasai diri tidak akan tega menyiksa anak2 yang tidak berdaya.
Penguasaan Diri
Kalo dipikir-pikir, sebenarnya kita sendiri juga pernah merasakan perubahan karakter dalam diri kita. Kalo lagi marah banget, kadang terasa kita ini seperti bukan lagi diri kita yang biasanya. Dalam keadaan marah seperti itu, biasanya kita kehilangan rasionalitas. Di kondisi sedih, kita juga bisa berubah jadi orang yang lemah tak berdaya. Tapi kalo lagi kondisi jatuh cinta, orang pun akan bisa berubah menjadi ceria berbunga-bunga sejuta rasanya... ah tanyain Uli atau Gita deh kalo soal masalah ini :D
Bedanya perubahan karakter seperti itu dengan perubahan karakter pada orang dengan kasus kepribadian majemuk adalah setiap karakter kita tetaplah mewakili kita. Pada saat kita berubah karakter, kita tetap sadar sebagai diri kita dan tidak kehilangan memori. Sedangkan pada orang berkepribadian majemuk, setiap karakter itu berdiri sendiri2. Bahkan setiap karakter Billy mempunyai nama masing2.
Yang menarik, Billy dibawah kepemimpinan karakter Arthur bisa mengatur dan menentukan karakter mana yang boleh dan tidak boleh memasuki "ruang utama". Sejumlah karakter telah di-black-list oleh Arthur dan tidak diperkenankan muncul karena dianggap hanya akan menimbulkan masalah. Bahkan karakter asli Billy termasuk karakter yang "ditidurkan", karena jika dia muncul ke ruang utama sering kali berusaha bunuh diri.
Mungkin kita yang normal ini juga tidak jauh berbeda. Pada dasarnya kita ini juga memiliki banyak karakter. Ada karakter yang kekanak2an, ada yang pemarah, ada yang super baik hati, ada yang religius, ada yang liar, ada yang kriminal. Sejalan dengan waktu dalam proses kita mematangkan diri, kita pun belajar untuk "menidurkan" karakter2 yang menurut kita tidak sepatutnya dimunculkan dalam mewujudkan image kepribadian yang ingin kita capai.
Sebagian orang menidurkan karakter liarnya dan hidup sebagai orang baik-baik. Sementara sebagian yang lain malah menghidupkan karakter liar dan hidup semaunya tanpa peduli norma. Sebagian orang menidurkan karakter pengecut dan pemalas sehingga bisa hidup penuh semangat dan perjuangan, sebagian yang lain malah menidurkan karakter pejuang sehingga menjadi orang malas tanpa semangat.
Seandainya kita tahu dan punya cara mudah bagaimana mengatur karakter2 yang ada pada diri kita, mungkin semua orang bisa menjadi pribadi2 unggulan...
Kabar Terakhir dari Billy Milligan
Billy Milligan tampaknya memang tidak cukup beruntung. Kabar terakhir disampaikan oleh Billy kepada Astraea pada musim gugur 1996.
Buku "24 Wajah Billy" ini, atau judul aslinya adalah "The Minds of Billy Milligan", telah dilanjutkan dengan buku selanjutnya berjudul "The Milligan Wars". Sayangnya buku kelanjutan ini baru diterbitkan di Jepang. Tidak diterbitkan di US karena buku ini menyerang banyak pihak di kalangan praktisi kesehatan jiwa di US.
Billy menuduh para dokter jiwa telah menjadikan pasien2nya sebagai mesin pencetak uang. Mereka tidak menginginkan pasiennya sembuh, karena jika sembuh mereka akan kehilangan sapi perahannya. Maka diciptakanlah kondisi yang malah membuat pasien2 itu semakin parah dan tergantung dengan dokter. Para dokter dan rumah sakit mental dengan seenaknya mematok biaya perawatan para pasien itu. Billy menemukan bahwa rumah sakit meminta bayaran $11.8 hanya untuk telur rebus dan secangkir susu.
Billy sendiri masih berhutang sebanyak $453,000 (!!) pada penguasa Ohio sebagai biaya perawatannya selama 11 tahun di rumah sakit mental. Billy baru bisa membayar $9,000 dari utangnya itu. Dan penguasa Ohio sedang berusaha untuk mendapatkan bagian dari hasil penjualan buku2 Billy untuk menutup utang Billy. Apalagi nanti jika film tentang Billy jadi dibuat.
Saat ini kabarnya memang sedang dibikin film yang berdasarkan kisah Billy Milligan ini. Film berjudul "The Crowded Room" telah lama direncanakan, dengan Joel Schumacher yang ditunjuk menjadi sutradaranya. Tapi tampaknya ini adalah proyek yang tidak jelas mati hidupnya. Kabar terakhir awal 2005 ini akan dimulai proses shooting, tapi hingga sekarang tidak ada kemajuan. Billy sendiri bahkan sudah sempat melatih beberapa aktor terkenal untuk memerankan dirinya, seperti Johnny Depp, Christian Slater, John Cusack, dan Leonardo diCaprio. Tapi belum ada kabar, siapa sebenarnya yang akan mengambil peran itu.
Kerumitan hidup Billy Milligan ternyata belum berakhir... (sumber: qyu)
Judul: 24 Wajah Billy
Pengarang: Daniel Keyes
Penerbit: Qanita
ISBN: 9793269375, 9789793269375
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook
The Kite Runner
The Kite Runner
Dinobatkan sebagai "Best Book of the Year" oleh San Fransisco Chronicle, seabrek pujian dari berbagai media, lebih dari 500 review telah dituliskan di Amazon.com yang isinya memuji2, hhhh...siapa yang nggak penasaran?. Tak pelak lagi akupun jadi tergoda untuk mencari dan membacanya.
"The Kite Runner" adalah karya novel pertama dari Khaled Hosseini, penulis kelahiran Kabul-Afghanistan yang sekarang menetap di California setelah mendapat suaka politik semasa Afghanistan dikuasai Uni Sovyet. Walaupun ini adalah novel debutan, tapi Khaled Hosseini mampu menyedot perhatian dari pencinta cerita fiksi dan menunjukkan bahwa dirinya tidak bisa diremehkan. Para penikmat novel pun memaklumi akan hadirnya seorang penulis handal dari Afghanistan, dan tanpa segan memberikan standing ovation kepadanya.
Mengangkat kisah tentang persahabatan dua orang anak Afghanistan yang berbeda nasib, yang kemudian berakhir dengan penebusan dosa di masa dewasa mereka. Dengan latar belakang utama kehidupan di kota Kabul sejak dari masa damai pada tahun 70-an, kemudian berganti dengan penguasa komunis, hingga akhirnya direbut oleh kelompok Taliban pada tahun 2000-an. Mengungkap tentang persahabatan, ketulusan, pengabdian, sekaligus pengkhianatan. Selain berbumbu ketegangan dan kemuraman masa perang, diskriminasi ras yang sangat kental juga menciptakan banyak konflik dalam novel ini.
Secuplik Kisahnya
Amir anak seorang pengusaha terkemuka di Kabul, berasal dari suku Pashtuns yang menganut Islam sunni, sehari-harinya berteman dengan Hassan, anak dari pelayan di rumahnya yang berasal dari suku Hazara yang menganut Islam syi'ah. Meskipun lingkungannya sudah lazim menganggap orang Hazara sebagai orang yang selayaknya dijadikan budak, Amir tetap akrab bergaul dengan Hassan tanpa mempedulikan tatapan dan omongan sinis orang di sekitarnya. Bahkan meskipun Hassan memiliki cacat sejak lahir, berbibir sumbing.
Hassan seolah memang dilahirkan untuk mengabdi sepenuhnya kepada Amir, sebagai mana Ali ayahnya yang mengabdi penuh kepada Baba ayah Amir sejak kecil. "For you, a thousand times over!" adalah kata2 yang sering diucapkan Hassan kepada Amir yang jelas mencerminkan suatu pengabdian total.
Hassan adalah "The Kite Runner" yang menjadi judul novel ini. Hassan adalah pengejar layang-layang yang tak terkalahkan. Ia mampu memperkirakan posisi jatuh layang2 secara akurat, tanpa perlu ikut berlarian mengikuti terus gerak jatuh layang2 tersebut. Ia tinggal menunggu di satu tempat yang telah diperkirakannya, dan layang2 itupun seolah datang menghampirinya.
Hingga pada suatu kontes aduan layang2 tahunan, Hassan yang berusaha mendapatkan layang2 yang terakhir jatuh untuk dipersembahkan kepada Amir, akhirnya harus mengalami kejadian yang menyedihkan. Amir hanya mampu melihat kejadian itu dari persembunyian di kejauhan, tak berani berbuat apa2. Kesakitan yang dialami Hassan demi untuk tetap bisa mempersembahkan layang2 itu kepada Amir, membuat Amir menyesali diri tak henti2 atas kepengecutannya dan itu terus menghantui hidupnya.
Kondisi Afghanistan yang kacau, mengharuskan Amir dan Ayahnya bermigrasi ke Amerika Serikat. Hingga dua puluh tahun kemudian, ketika Amir telah menikah, sebuah panggilan telepon dari Pakistan memberi kesempatan kepada Amir untuk melakukan penebusan dosa... "There is a way to be good again"
Tentang Afghanishtan dan Masa Kecil
Khaled Hosseini menggali karakter pelaku dengan sangat dalam. Pembaca bisa ikut merasakan kegelisahan Amir selama dalam penyesalan, ketakutannya ketika dalam pelarian, keragu-raguannya untuk kembali ke Afghanistan, juga kebulatan tekadnya untuk menebus dosa. Pembangunan karakter yang kuat dan konsisten. Salah satu review menyatakan, membaca novel ini serasa membaca sebuah memoar bukannya novel fiksi. Bahkan ada yang menebak2 bahwa kemungkinan ini adalah kisah nyata sang penulis sendiri.
Penulis sepertinya juga ingin mengingatkan pembaca, bahwa masa kecil adalah masa2 rawan dalam perkembangan pematangan jiwa manusia. Trauma di masa kecil bisa mempengaruhi kejiwaan hingga dewasa. Pengajaran dan perlakuan di masa kecil juga akan sangat membekas kuat pada diri seseorang hingga dewasa.
Novel ini juga sedikit banyak mampu membuka mata pembacanya tentang situasi Afghanistan sejak masa damai hingga berbagai kekacauan yang terjadi selama beberapa dekade terakhir ini. Perubahan yang sangat mencolok digambarkan saat Amir harus kembali kesana setelah dua puluh tahun tinggal di Amerika. Gersang, hancur, miskin, penuh teror. Sementara penguasa Taliban hidup dalam kepongahan dan kemewahan.
Bukan Tentang Perang atau Islam
Meskipun pada beberapa bagian mengungkap latar-belakang peperangan, jangan khawatir akan menjumpai cerita yang penuh kekerasan dan pertumpahan darah. Pada sebagian besar cerita lebih mengungkap tentang gejolak batin Amir dan liku-liku kehidupan keluarga dan teman2nya.
Hanya beberapa scene saja yang menggambarkan perkelahian memperebutkan harga diri. Tapi beberapa perkelahian yang terjadi itu selalu mempunyai peran dalam merubah garis cerita. Satu perkelahian menjadi satu titik paling kelam, sementara perkelahian yang lain menjadi satu titik kemenangan penebusan dosa.
Meskipun berlatar belakang negara Islam, budaya dan ajaran Islam hanya disampaikan sebagai pelengkap cerita. Bahkan para pelaku utamanya juga dikisahkan sebagai pemeluk Islam yang tidak terlalu taat. Hanya Hassan dan Ali yang rajin melaksanakan shalat lima waktu.
Baba, ayah Amir, bahkan tidak menaruh hormat kepada para Mullah yang menjadi guru2 Amir. Bagi Baba, dosa hanyalah jika ia mencuri sesuatu dari orang lain. Mencuri hidup orang dengan membunuh, mencuri hak orang atas kebenaran dengan berbohong, mencuri hak orang atas keadilan dengan main curang, adalah hal2 yang diyakini Baba sebagai dosa, bukannya minum alkohol atau makan babi. Dan Amirpun marah hebat ketika di saat dewasa ia baru tahu bahwa Baba ternyata telah mencuri haknya untuk mengetahui kebenaran.
Mengalir Getir
Setiap kali aku membuka-buka kembali halaman novel untuk membuat review ini, kegetiran hebat selalu muncul ketika aku tiba di halaman2 saat Hassan dengan pengabdian totalnya harus mengalami titik terburuk di masa kecilnya. Apalagi penulisnya juga seolah mendramatisir kejadian itu dengan mengulang2 rasa penyesalan Amir atas kejadian itu di banyak halaman lain.
Pantaslah bila beberapa reviewer bilang bahwa mereka tak bisa berhenti menangis... (sumber: qyu)
Judul: The Kite Runner
Penulis: Khaled Hosseini
Penerbit: Qanita, 2008
ISBN: 9793269758, 9789793269757
Tebal: 490 halaman
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook
Malaikat dan Iblis - Edisi Khusus Bergambar
Novel itu memang baru, tapi tidak baru. Bingung kan?. Novel ini diterbitkan Februari 2005, fresh from the oven. Tapi versi aslinya sudah diterbitkan pada tahun 2000. Yup, novel baru itu adalah versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Sepertinya penerbit Serambi tidak mau kehilangan momentum. Setelah terjemahan Da Vinci Code yang kontroversial itu terbukti mampu menyita perhatian pecinta buku, dalam waktu tidak terlalu lama novel dari pengarang yang sama dengan tema yang agak2 serupa mereka terjemahkan dan terbitkan. Angels & Demons, Malaikat & Iblis.
Dan wiken kali ini, sebagaimana wiken minggu kemaren, kembali dikuasai oleh sebuah buku baru.
Hey Q! get a life!!.... :p
Deja Vu
Dari melihat covernya (yang edisi terjemahan ini ya) aku udah merasa deja vu. Kok mirip banget sih? sengaja pengen ndompleng ya? Padahal sebenernya ini kan prequel dari DVC, terjadi sebelum kisah yang dipaparkan di DVC. Meski nggak ada keterkaitan cerita satu sama lain, tapi tokoh utamanya tetap Robert Langdon dengan latar belakang yang tidak jauh berbeda.
Menelusuri bab-bab awal, kembali terasa deja vu. Diawali dengan seseorang yang tidak mau dipaksa untuk mengatakan suatu rahasia hingga berujung pada pembunuhan sadis. Kemudian Robert Langdon ditelepon malam2 oleh orang asing diminta untuk melihat mayat dan simbol2 yang ada. Di tempat kejadian Robert terkejut2 melihat mayat telanjang yang dibunuh dengan sadis. Dan dilanjutkan pertemuan Robert dengan seorang wanita yang kemudian akan menjadi partner yang mendampinginya hingga akhir cerita. Plot yang sangat mirip dengan bab2 awal dari Da Vinci Code. Apa Dan Brown nggak punya cara lain untuk membuka cerita dan memperkenalkan tokoh2nya?
Robert Langdon tetap dipakai keahliannya sebagai pakar simbologi keagamaan dalam mengungkap semua misteri di dalam novel ini. Jadi jangan mengeluh kalo merasa ada data dan fakta yang dikemukakan di novel ini sudah pernah dibicarakan di DVC.
Tapi jangan khawatir. Itu semua hanya akan terasakan di awal2 cerita. Setelah semuanya mengalir dengan lancar, suatu cerita baru yang penuh dengan ketegangan akan meliputi pembacanya. Kita akan disiksa oleh novel ini, karena serasa tidak mampu melepaskannya....
Agama dan Sains
Jika di DVC ada suatu kelompok rahasia yang berusaha diungkap keberadaan dan aktifitasnya, Priory of Sion, maka disini juga ada suatu kelompok rahasia yang memainkan cerita utama, Illuminati. Sama2 merupakan suatu kelompok yang telah terbentuk ratusan tahun yang lalu, dengan beberapa anggotanya adalah tokoh2 terkenal dunia. Keduanya juga sama2 mempunyai pandangan yang melawan kebijakan gereja. Bedanya, tidak seperti PS yang terus berusaha bersembunyi, Illuminati malah muncul dan menyebar teror ke gereja Vatikan.
Pihak gereja bukan hanya cemas dengan teori2 baru dari para ilmuwan yang bertentangan dengan dalil2 di kitab suci, tapi mereka juga cemas akan ditinggalkannya nilai2 moral dan etika jika manusia sudah terlalu memuja ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara memang tidak bisa dipungkiri sebagian dari para ilmuwan begitu bangganya dengan sumbangannya terhadap kemajuan dan modernisasi kehidupan manusia, tapi mereka mengabaikan akan efek2 buruk yang ternyata bisa merusak kehidupan manusia.
Petualangan 24 Jam
Satu lagi deja vu dalam novel ini adalah seluruh petualangan berlangsung hanya dalam 24 jam, sama seperti DVC. Kejadian demi kejadian dirangkai tanpa jeda. Dari satu kejutan ke kejutan berikutnya. Pembaca dibuat terpaku tak mau pergi karena penasaran dengan bagaimana kelanjutannya, apa kejutan berikutnya.
Petualangan intelektual pembaca diawali dengan pameran kedigdayaan ilmu pengetahuan. Pesawat terbang berkecepatan 15 mach (whatever it is.. :P), kompleks laboratorium raksasa di Jenewa dengan mesin akselerator partikel terbesar di dunia. Dilengkapi dengan teori2 tentang partikel hingga bagaimana bisa tercipta partikel antimateri yang menjadi sumber malapetaka dalam petualangan ini.
Klimaks dari novel ini cukup fantastis, dengan banyak kejutan tak terduga. Puas rasanya semua ketegangan dari awal yang terus berdetak tanpa henti akhirnya ditutup dengan ending yang WOW!. Seharusnya novel ini lebih layak menjadi film Hollywood daripada DVC yang berakhir menggantung tanpa penjelasan pasti. Tapi sepertinya susah untuk bisa membuat film yang otentik berdasarkan novel ini, terutama karena lokasi utamanya yang sangat restricted. Istana Vatikan dan seluruh ruang rahasianya.
Ambigram
Teka-teki dalam DVC terbungkus dalam kode2 sandi Anagram, kalimat yang posisi huruf2nya telah dipertukarkan sehingga membentuk kalimat baru. Sedangkan disini, yang bermain sebagai permainan yang menyenangkan dan mencengangkan pembaca adalah ambigram. Kata2 yang ditulis sedemikian rupa sehingga jika diputar 180 derajat akan terlihat sebagai tulisan yang sama persis. Simetri putar kalo dalam istilah matematika di SD.
Mencengangkan, karena membutuhkan kreativitas dan ketelitian tingkat tinggi agar bisa membuat tulisan semacam itu. Enam ambigram yang dilukiskan dalam kisah ini pastilah menimbulkan kekaguman. Dan ambigram terakhir adalah yang paling brilian.
Penggunaan huruf gothik yang penuh dekorasi mungkin memang salah satu cara tepat untuk membentuk ambigram. Dari sudut pertama, satu garis adalah komponen dari salah satu huruf, tapi dari sudut kedua, garis tersebut hanyalah sebagai dekorasi tanpa mengganggu huruf utama. Walaupun kadang bentuk huruf yang ada menjadi tidak sempurna, tapi karena kemampuan manusia yang sangat hebat dalam pengenalan pola dan kecenderungan untuk mempersepsikan sesuatu sesuai dengan keinginan, maka ambigram itu akan tetap bisa dibaca dengan baik.
Dan ketika aku selesai membaca novel ini, menutupnya, dan menghela nafas panjang, halaman yang bertuliskan judul asli novel ini tersibak sekilas. Angels & Demons, ditulis secara dekoratif. HAH! dekoratif katamu? aku buka lagi halaman itu, aku putar 180 derajat. Ambigram ke tujuh. (sumber: qyu)
Judul: Malaikat dan Iblis - Edisi Khusus Bergambar
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Penerbit Serambi
ISBN: 9791112355, 9789791112352
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook
Sang Musafir
Buku ini adalah buku pertama karya Mohamad Sobary yang aku baca. Sebelumnya sudah pernah diterbitkan sejumlah karya dari Kang Sejo, sapaan akrab Mohamad Sobary, ini antara lain "Kang Sejo Melihat Tuhan", "Kisah Karna dan Dendam Kita", "Singgasana dan Kutubusuk", dan beberapa lagi yang lain, yang semuanya belum pernah aku baca :) Novel "Sang Musafir" ini sendiri diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada Agustus 2007, dalam 272 halaman.
Kang Sejo awalnya berkarir sebagai seorang peneliti bidang Kebudayaan di LIPI. Dan tampaknya ia sangat menikmati profesinya sebagai peneliti yang banyak memberinya kebebasan. Kemudian seiring dengan semakin terbangunnya sosok Kang Sejo yang bersih dan berdedikasi, dan dengan semakin kuatnya lingkaran pergaulannya, pada tahun 2000 ia diminta untuk mengepalai sebuah institusi yang bukan sembarang institusi, Lembaga Kantor Berita Antara. Dengan harapan sebagai orang luar ia bisa memberi penyegaran dan membersihkan sampah2 di dalam lembaga tersebut.
Buku ini adalah potongan2 kisah dan kegelisahan Kang Sejo selama ia dipercaya untuk memimpin lembaga yang membawa nama negara tersebut. Sudah bisa ditebak, sebagian besar isinya adalah kegalauan Kang Sejo dalam menghadapi segala macam jenis budaya buruk yang telah berurat akar dalam lembaga milik negara… korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Kang Sejo Menjadi Pejabat
Kang Sejo sebenarnya adalah anak seorang petani desa, yang diiringi tangis ibunya, nekat mengembara ke Jakarta untuk mematangkan diri, memetik tiap pengalaman menjadi guru yang akan memberi makna hidup lebih dalam. Bukan untuk semata-mata mencari kemegahan dunia melalui harta dan tahta. Setelah sekian lama menetap di Jakarta Kang Sejo tetaplah seorang anak petani, yang terbiasa hidup sederhana selaras dengan alam, hidupnya dilalui dengan menggelinding tanpa banyak tuntutan. Prinsip2 hidup dari budaya Jawa dan tuntunan Islam Sufi menjadi pedomannya dalam melangkah setiap saat.
Permintaan untuk memimpin sebuah lembaga ternama tentulah sangat mengejutkan Kang Sejo yang tidak ngoyo mengejar jabatan tersebut. Seorang sahabat yang telah menduduki posisi terhormat yang memintanya. Ini adalah permintaan ketiga darinya setelah dua jabatan yang lain pernah ditawarkan dan ditolak oleh Kang Sejo. Kang Sejo hampir menolak kembali tawaran tersebut, karena ia tidak mau terkekang birokrasi, merasa tidak bisa mengatur orang banyak, merasa kebebasannya sebagai peneliti yang bebas menulis akan tergadaikan, merasa ia dikorbankan untuk kepentingan sahabatnya tersebut. Tetapi akhirnya sebagai orang Jawa, Kang Sejo merasa tak enak untuk menolak ketiga kalinya. Ia pun menerima jabatan tersebut.
Dan berhadapanlah Kang Sejo dengan segala kerumitan sebuah lembaga yang korup dengan produktivitas rendah. Hari kedua ia duduk di kantor baru, ia sudah diminta menandatangani surat pinjaman sekian puluh juta atas nama dirinya yang tidak pernah ia minta dan terima. Di hari kedua itu pula ia sudah harus marah2 kepada semua anak buah yang baru dikenalnya.
Bergulirlah kemudian cerita-cerita tentang bagaimana Kang Sejo dengan gayanya yang lembut layaknya orang Jawa tetapi tetap tegas berusaha merubah perlahan-lahan budaya kerja di lingkungan yang ia pimpin. Ia merubahnya dengan memberi keteladanan. Mobil dinas Mercedes ia tolak, diganti dengan mobil Kijang itupun bukan dari tahun terbaru. Pintu ruangannya selalu ia buka agar setiap pegawainya dari semua tingkatan tidak segan2 jika ingin melaporkan sesuatu, atau sekedar mengeluh tentang situasi kantor.
Diseling pula dengan cerita dari kehidupan sehari-harinya seputar keluarganya. Tentang sikapnya yang tetap berusaha menjejak tanah meskipun mendapat rumah dinas yang jauh lebih megah dibanding rumah sebelumnya. Ia pun tetap menunduk dalam2 di hadapan orang tua dan mertuanya, serta tetap berusaha menjaga keakraban dengan semua saudaranya meskipun waktunya kini semakin sempit.
Segala segi dalam kehidupannya dituturkan di buku ini. Kadang kembali ke masa kecilnya di desa yang penuh dengan kesederhanaan tapi sarat keteladanan. Ada juga saat ia mengungkapkan kekagumannya kepada orang lain yang telah lebih mapan secara mental dan pemikiran. Ada pula penuturan menarik tentang petualangan rohaninya saat melakukan shalat malam di tengah taman di halaman rumahnya. Semua itu melingkupi rutinitas hidup utamanya yang harus menghadapi seabreg masalah di kantor yang dipimpinnya.
Bacaan yang Menyejukkan di Tengah Keruwetan
Membaca buku ini terasa begitu tenang dan menyejukkan. Mohamad Sobary menuliskannya dengan penuturan yang sangat 'njawani'. Tenang, sopan, nyaris tanpa emosi jika memang tidak perlu. Serasa seperti sedang mendengarkan kisah dan petuah dari seorang bapak yang telah mencapai suatu taraf kebijaksanaan setelah merasakan sekian banyak asam garam kehidupan. Dan jika kita melihat foto diri Mohamad Sobary pada halaman belakang, semua itu memang sangat klop. Sosok penulis ini sangat tenang dan kebapakan.
Ada sedikit emosi saat Kang Sejo kesal dengan perilaku korup di kantor yang dipimpinnya, tapi semuanya tetap terkendali dengan baik. Emosi itu dikeluarkan secukupnya tidak asal tabrak sana sini. Lonjakan emosi karena kesedihan atau kegembiraan pun dituturkan dengan tenang tanpa banyak kejutan. Semuanya mengalir dengan tenang dan terjaga. Sungguh sangat 'njawani'. Dan memang disini banyak panutan hidup yang dituturkan disini yang berdasarkan budaya Jawa yang diajarkan oleh mendiang Ayah Kang Sejo yang seorang petani desa. Dipadu pula dengan tuntutan ajaran agama Islam yang dianut dengan taat oleh Kang Sejo, dengan kecenderungan ke arah sufisme.
Novel atau Memoar?
Kalau boleh sedikit bertanya, aku sedikit ingin mempertanyakan tentang katagori buku ini. Aku tidak tahu apa definisi dan batasan sebuah "novel". Buku ini menurutku adalah sebuah memoar non fiksi, meskipun aku juga tidak tahu apa definisi "memoar" :D Tidak ada alur cerita utama yang dituturkan secara runtut dari awal hingga akhir. Masing masing bagian bercerita sendiri-sendiri meskipun tetap diikat oleh tokoh dan setting yang sama. Tidak ada pula ending yang memberikan konklusi dari kisah perjalanan tokohnya. Tapi entah kenapa pada sampul bukunya jelas jelas tercetak "Sang Musafir, novel, Mohamad Sobary". Mungkin memang aku yang terlalu awam akan dunia sastra :)
Tapi yang pasti bacaan ini sangat cocok untuk menentramkan hati, menawarkan sebuah contoh sikap saat mencari kita cara untuk bisa tenang saat menghadapi keruwetan hidup. (sumber: qyu)
Judul: Sang Musafir
Penulis: Mohamad Sobary
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2007
ISBN: 9792230912, 9789792230918
Tebal: 265 halaman
Untuk membaca buku ini secara online silakan klik tulisan di bawah ini:
Baca Online Ebook
Baca Online Ebook